Warga Tolak Pembangunan Rumah Persemayaman

1103
BUTUH SOSIALISASI: Ketua DPRD Salatiga Teddy Sulistio bersama pengurus Paguyuban Gotong Royong meninjau calon lokasi gedung persemayaman di Ngawen (IST).
BUTUH SOSIALISASI: Ketua DPRD Salatiga Teddy Sulistio bersama pengurus Paguyuban Gotong Royong meninjau calon lokasi gedung persemayaman di Ngawen (IST).

SALATIGA- Paguyuban Gotong Royong Salatiga mendatangi kantor DPRD Salatiga, Selasa (17/10). Mereka berharap, Dewan bisa memberikan solusi terkait pendirian rumah persemayaman (tiong ting) di Ngawen RW 15 yang mendapat penolakan dari warga.

Paguyuban Gotong Royong terpaksa harus mencari dan membuat tempat persemayaman baru. Sebab, lokasi lama di Dukuh Butuh, Kelurahan Kutowinangun Lor yang menempati lahan TNI, diminta oleh Korem.

Kedatangan pengurus paguyuban diterima oleh Ketua DPRD Salatiga Teddy Sulistio dan fraksi PDIP. Setelah diterima di gedung dewan, mereka melakukan kunjungan langsung ke lokasi persemayaman di Ngawen. Rombongan juga mengunjungi lokasi di Dukuh Ngemplak, Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo. Lokasi terakhir merupakan tanah bengkok milik Pemkot Salatiga yang ditawarkan untuk dijadikan rumah persemayaman.

Ketua Paguyuban Gotong Royong Gunawan Yuliantoro juga berharap kepada pihak eksekutif membantu untuk menyosialisasikan tempat persemayaman kepada warga, agar mereka menjadi paham. “Dewan sudah mendukung kita, saya berharap eksekutif juga melakukan hal yang sama dengan melakukan sosialisasi kepada warga. Karena warga belum paham, yang diketahui ada polusi asap pembakaran, padahal sama sekali tidak ada. Ini hanya tempat persemayaman (persinggahan) saja,” ujar Gunawan.

Lebih lanjut dijelaskan Gunawan, lokasi seluas 2.300 meter persegi milik Peguyuban Goyong Royong di Ngawen ini sangat representatif. Di depannya juga merupakan lokasi pemakaman umum dan status tanahnya juga jelas milik paguyuban.

Terkait tawaran Pemkot Salatiga untuk menempati lokasi tanah bengkok di Kumpulrejo, Gunawan menyatakan, selain jauh dari permukiman, lokasi yang ditawarkan juga identik dengan tempat pemakaman. Padahal yang dibutuhkan untuk persemayaman (rumah duka).

Ketua DPRD Salatiga Teddy Sulisito kepada wartawan mengatakan, rumah persemayaman merupakan tempat pelayanan, harus representatif dan mengedepankan azas kepantasan. Menurutnya, kalau yang ditawarkan pemkot, jauh dari keramaian dan lebih cocok digunakan untuk pemakaman umum.

Sementara Sekretaris RW 15 Dukuh Ngawen Budiono, 38, mengatakan, warga menolak pembangunan rumah persemayaman karena khawatir dengan dampak yang ditimbulkan. “Karena yang disemayamkan jenasah, warga takut kalau-kalau membawa penyakit yang menular ke warga,” katanya kepada wartawan. Menurut Budiono, warga bisa diajak musyawarah dengan baik-baik dan diberi penjelasan detail terkait rumah persemayaman. (sas/ton)