Dua Wilayah Jadi Endemik DBD

1245

UNGARAN–Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Semarang terus diwaspadai. Pasalnya, beberapa wilayah di Kabupaten Semarang masih menjadi endemik DBD.

Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Semarang, Dadi Darmadi mengatakan dua dari 19 kecamatan yang ada di daerah ini merupakan endemik penyakit DBD dan selalu menyumbang kasus DBD tertinggi di antara kecamatan lainnya. Antara lain Kecamatan Ambarawa dan Kecamatan Bergas.

Data Dinkes Kabupaten Semarang menyebutkan pada 2016 lalu, kasus DBD di wilayah Kabupaten Semarang total mencapai 993 kasus. Dari jumlah ini, sebanyak tujuh orang penderita nyawanya tidak tertolong. Sementara berdasarkan laporan dari tiap-tiap Puskesmas yang ada di Kabupaten Semarang, sampai dengan Oktober ini sudah ditemukan sebanyak 173 kasus DBD dengan satu korban meninggal dunia.

Meski begitu, ia tetap optimistis jika angka penyakit DBD di Kabupaten Semarang akan menurun pada tahun ini. “Kuncinya, selama masuk musim penghujan, warga tetap menjaga kebersihan lingkungan dan membudayakan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),” ujarnya, Rabu (18/10) kemarin.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Semarang, Ani Raharjo mengungkapkan tingginya curah hujan yang mengguyur Kabupaten Semarang. Karena itu, mengimbau masyarakat untuk melakukan gerakan PSN. Menurutnya gerakan PSN masih menjadi cara yang paling efektif guna mengantisipasi ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). “Gerakan PSN kalau sudah membudaya, jauh lebih efektif untuk mencegah wabah penyakit DBD, dari pada upaya fogging,” ujarnya.

Dikatakan Ani, fogging sebenarnya hanya mematikan nyamuk dewasa dan tidak efektif untuk membunuh jentik-jentik dan telur nyamuk. Berbeda dengan PSN yang akan mampu memberantas telur, jentik- jentik hingga nyamuk dewasa. Namun paradigma yang terjadi di masyarakat saat ini, fogging masih dianggap sebagai solusi saat kasus DBD ditemukan di lingkungan mereka. “Bahkan baru kasus demam dengue (belum DBD) saja, warga sudah meminta dilakukan fogging,” katanya.

Padahal, lanjutnya, penanganan wabah DBD dengan fogging ini justru membuat jentik nyamuk menjadi lebih kebal. Artinya jentik ini masih akan bisa bertahan untuk menjadi nyamuk dewasa yang akhirnya bisa menyebarkan penyakit ini.

Selain PSN, warga juga penting mengefektifkan juru pemantau jentik (jumantik) di lingkungan masing-masing. Optimalkan kembali fungsi jumantik, lakukan pembersihan sampah yang berpotensi menjadi tempat bersarang dan berkembangbiaknya nyamuk. Lakukan pembersihan sesegera mungkin jika ditemukan jentik- jentik nyamuk dan jangan biarkan air menggenang. “Seperti botol- botol bekas, kaleng dan sampah yang gampang teriais air hujan lebih baik ditimbun di dalam tanah,” tuturnya. (ewb/ida)