85 Persen Kanker, Karena Lingkungan

526
SEMARANG–Jika bisa dideteksi sejak dini, kanker bisa lebih mudah diatasi. Pasalnya, faktor risiko kanker terbesar adalah karena lingkungan, yakni 85 persen. Sementara, hanya 15 persen dari keturunan.
“Artinya, kanker bisa dicegah. Antara lain dengan pola makan yang baik, menghindari paparan tembakau atau asap rokok, mencegah infeksi atau virus, menghindari obesitas, menjauhi alkohol, dan sebagainya,” beber Praktisi kesehatan dari RSUP Dr Kariadi, dr Adityawati Ganggaiswari dalam Seminar Awam Kanker dan Gaya Hidup Pencegahan dan Deteksi Dini, di Aula Diklat RSUP Dr Kariadi, Jumat (20/10) kemarin.
Pencegahan lainnya dengan meningkatkan aktivitas fisik atau olahraga. Adityawati menyoroti gaya hidup di perkotaan yang minim aktivitas fisik. Misalnya, berangkat sekolah atau kerja menggunakan mobil, sesampainya di lokasi dilanjutkan dengan duduk. Nyaris tanpa ada aktivitas fisik yang berat. Di sisi lain, pola makan semakin tak terkontrol, terutama dengan banyaknya makanan cepat saji.
Ditambahkan, deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kanker, mutlak dilakukan. Khususnya deteksi dini pada kanker payudara dan leher rahim atau serviks. Dengan deteksi dini, jika ditemukan gejala awal kanker akan dapat diobati secara dini dengan keberhasilan tinggi. Sebab, masih banyak penderita yang memeriksakan kesehatannya saat kanker yang diderita sudah memasuki stadium lanjut.
Senada dengan Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru W Sudoyo. Menurutnya, bukan obat canggih yang bisa menurunkan kanker. Namun, gaya hidup sehat dan deteksi dini. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, 90 persen kanker bisa disembuhkan. “Tanpa deteksi dini, harapan hidup lima tahun kurang dari lima persen. Kalau dengan deteksi dini, bisa 85 persen,” terangnya.
Ketua Tim Penggerak PKK Jateng, Siti Atikoh Ganjar Pranowo menambahkan, pihaknya juga ikut andil dalam membantu menurunkan angka kejadian kanker di provinsi ini melalui sosialisasi pencegahan kanker. Seperti menyosialisasikan perilaku CERDIK, yakni cek kesehatan secara rutin, enyahkan rokok, rajin beraktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stress.
Deteksi dini kanker melalui IVA Test dan periksa payudara sendiri (Sadari) juga terus digerakkan. Hampir setiap kegiatan PKK maupun pemerintah provinsi yang mendatangkan banyak ibu, diselipi dengan pemeriksaan IVA Test. Apalagi, pencegahan kanker melalui deteksi dini telah menjadi program pemerintah. Bahkan ibu negara Iriana Joko Widodo berulangkali datang ke Jateng, seperti di Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, dan Klaten, untuk memantau pelaksanaan deteksi dini tersebut.
“Banyak upaya yang sudah kami lakukan. Mengoordinasikan dengan kabupaten/ kota, di mana kami mengumpulkan istri bupati dan wali kota pada Rakor TP PKK se-Jawa Tengah. Kami juga menggelar Rakor dengan SKPD provinsi dan organisasi wanita untuk menggerakkan IVA Test. Kalau dikeroyok bareng-bareng akan lebih banyak berhasilnya,” ungkapnya.
Untuk lebih memasyarakatkan IVA Test, imbuh Atikoh, kepanjangan IVA yang disosialisasikan tidak hanya Inspeksi Visual Asam Asetat, tapi Intip Vagina Anda. Sehingga, lebih mudah diingat oleh para ibu.
Praktisi Kesehatan RSUP Dr Kariadi, dr T Mirza mengakui, sosialisasi terus menerus dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini kanker. Terbukti, dulu kesadaran deteksi dini hanya lima persen, sementara sekarang sudah 10,7 persen.
Diterangkan, pada kanker serviks, gejala awal yang mesti diwaspadai adalah keputihan dalam jumlah banyak dan berbau. Apalagi ditambah dengan pendarahan saat berhubungan seksual. Pada wanita yang sudah menopause juga terjadi pendarahan yang tidak teratur. Pada tahap lanjut, penderita akan sulit buang air besar. Gejala dan tanda-tanda kanker tersebut harus diketahui masyarakat. Termasuk, pengenalan faktor-faktor risiko, serta metode deteksi dini yang bisa dilakukan. “Satu-satunya jalan yang efektif dengan sosialisasi melalui PKK,” ujarnya.
Saat ini, kata Mirza, pencegahan kanker bisa dilakukan dengan imunisasi Human Papilloma Virus (HPV). Ada dua jenis vaksin yang digunakan di negara ini, yakni bivalen dan quadrivalen. Vaksin ini lebih efektif diberikan pada wanita usia 11-12 tahun, atau sebelum kontak seksual. “Bagi mereka yang sudah menikah juga bisa, tapi harus dilakukan deteksi dini dulu,” tandasnya. (amh/ida)