Membangkitkan Kreativitas Mengajar di SLB

1080
Oleh: Suwarni SPd
Oleh: Suwarni SPd

ANAK-anak berkebutuhan khusus seperti halnya anak normal mempunyai hak sama untuk memeroleh pendidikan.  Ketika anak berkebutuhan khusus sekolah bisa jadi semangatnya menjadi luar biasa, mungkin mengalahkan semangat anak lainnya. Mereka juga ingin pandai, ingin mempunyai teman-teman sekolah, melakukan  kegiatan mandi pagi, sarapan, memakai seragam dan diantar sekolah. Mereka ingin menunjukkan eksistensinya sebagai anak sekolah. Hingga orang tua terkadang dibuat repot meskipun sakit mereka tetap ingin sekolah. Sungguh luar biasa, sesuai dengan tempat belajarnya di sekolah luar biasa (SLB).

Semangat anak berkebutuhan khusus yang luar biasa tidak selalu berbanding lurus  dengan semangat guru dalam  mengajar, meskipun telah bersertifikat sebagai guru profesional. Memang ada sebagian guru berkualitas bagus secara pedagogik sehingga terjadi peningkatan kemampuan siswa. Bagaimana dengan guru yang mengajar seadanya, semaunya, asal datang dan tidak kreatif? Apapun dalihnya siswa yang dirugikan.

Tidak dipungkiri dalam satu kelas di SLB ada beragam kemampuan dan karakteristik siswa. Satu kelas terdapat dua atau lebih dari dua rombel dengan diampu satu guru adalah hal biasa. Contoh  siswa kelas I dan II dijadikan satu kelas dengan satu guru. Kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor  siswanya dalam satu kelas itu jelas berbeda. Atau dalam kelas itu hanya kelas VI saja namun kemampuan siswanya beragam. Misalnya satu siswa sudah mampu baca tulis, perkalian, pembagian. Sementara siswa yang lain belum mengenal huruf a, b, dan belum mampu bicara serta sering berteriak mencari perhatian, sementara siswa satunya lagi pasif  dan pendiam. Di sinilah dituntut kreativitas guru dalam mendidik dan mengajar.  Sementara guru juga dihadapkan pada kurikulum yang harus diajarkan kepada siswanya.