Mempola Pembelajaran Berserial Sinetron

833
Oleh: Achmad Mashfufi MPd
Oleh: Achmad Mashfufi MPd

BEBERAPA kalangan guru, sinetron dianggap sebelah mata sebagai acara televisi yang kurang begitu bermutu, dan kurang berfaedah, meskipun ada beberapa guru kaum hawa masih saja menyukainya. Padahal ada beberapa inspirasi yang dapat diambil dari serial sinetron.

Meskipun tidak menganggap sinetron sebagai acara televisi pilihan, penulis menemukan sebuah inspirasi yang bagus untuk pembelajaran di kelas. Sebelum masuk episode baru setiap harinya, sinetron selalu menyajikan secara ringkas ‘episode sebelumnya’. Penonton dengan sengaja diajak mengingat kisah yang lalu dan menyambungkannya dengan kisah yang baru.

Tidak berlebihan kiranya jika membandingkan pembelajaran di kelas dengan penyajian sinetron. Untuk anak-anak kita di sekolah dasar dan menengah, pembelajaran di kelas mestinya didesain menjadi sebuah serial sinetron yang utuh, karena saling berkaitan. Masihkah para guru mau sejenak pada awal pembelajaran menyampaikan sekilas materi pelajaran sebelumnya, lantas menyambungnya dengan materi yang baru.

Tampaknya para guru dengan dalih padatnya muatan kurikulum, telah kehilangan kesabaran untuk mengulang-ulang memahamkan pelajaran. Awal pelajaran yang semestinya menyenangkan tidak jarang dimulai dengan ulangan mendadak. Padahal ulangan adalah sebuah evaluasi, tetapi telah menjadi alat menghukum, lantas digunakan untuk menakut-nakuti siswa.

Di sisi lain para guru dihadapkan pada situasi siswa, yang memanfaatkan berbagai dalih untuk tidak mau belajar, tidak mau serius di kelas, atau sekedar mau yang enak dan serba jalan pintas. Tantangan paling besar bagi para guru bukanlah memahamkan pelajaran kepada siswa, tetapi siswa yang tidak bergairah atau ogah-ogahan di kelas. Irama persekolahan yang banyak libur, atau libur-masuk-libur-masuk, terasa efeknya di kelas. Disinilah pentingnya guru menempuh preleksi di setiap awal pelajaran.

Istilah “preleksi” yang mestinya dihadirkan pada awal pelajaran merupakan kesempatan yang memungkinkan guru untuk memotivasi atau membangun antusiasme siswa. Penyajian sinetron seperti di awal tulisan ini dapat dianalogikan dengan preleksi. Memunculkan kembali episode cerita sebelumnya dapat membantu ingatan penonton tentang cerita yang lalu, pun membantu penonton menemukan kaitan dengan cerita sekarang. Bahkan banyak pula sinetron yang mencoba menampilkan episode sesudahnya untuk memancing penonton mengikuti lagi dan lagi.

Membangun motivasi atau antusiasme pada proses preleksi dapat berupa menyodorkan pertanyaan-pertanyaan ringan atau memberikan kesempatan kepada siswa untuk menceritakan pengalaman kesehariannya yang berkaitan dengan isi pelajaran.

Setiap guru memiliki cara sendiri-sendiri dan memahami konteks untuk dapat memotivasi siswanya. Motivasi dapat berkaitan dengan pencapaian nilai (angka-angka), nilai uang (finansial), sampai dengan nilai-nilai kehidupan (values). Berkaitan dengan motivasi, Ignatius Loyala berpegang pada cita-cita perkembangan manusiawi yang tuntas. Ia menekankan sifat magis, yang berarti “lebih”. Bersemangat “lebih” dalam kebaikan dan keutamaan, artinya tidak berhenti pada proses dan hasil yang biasa-biasa saja.

Guru pun dalam memotivasi siswa dapat mengambil inspirasi dari dunia yang tidak jauh dari situasi keseharian. Mengingatkan setiap pelajaran dengan dunia para siswa biasanya akan mendatangkan antusiasme. Yang tidak boleh dilupakan oleh guru dalam memotivasi siswa adalah guru sendiri mesti penuh dengan motivasi. “Nemo dat quod non habet, tak seorangpun bisa memberi kalau dirinya sendiri tak punya. Bagaimana mungkin para guru mampu menghadirkan antusiasme di depan kelas, sementara dalam dirinya serba penuh dengan keraguan dan kegamangan hidupnya sendiri?

Dan memang, terbukti sebuah ungkapan pedagogis bahwa para siswa tidak mengingat yang diajarkan oleh gurunya, mereka mengingat yang dilakukan oleh gurunya. Di masa kini para pelajar tidak lagi mendengarkan para pengajar, tetapi mereka mendengarkan secara sungguh-sungguh yang disampaikan oleh saksi-saksi hidup. Dan seandanya mereka mendengarkan para gurunya, itu terjadi oleh karena gurunya adalah saksi-saksi hidup, saksi mengenai hidup yang penuh antusiasme. (*/aro)