Belajar Asyik dengan Dramatisasi

1139
Oleh: Arifah Khusnawati SPd SD
Oleh: Arifah Khusnawati SPd SD

MENGAJAR siswa SD memerlukan keterampilan khusus. Sebab, siswa SD mengalami masa transisi dari peran orang tua sebagai pembimbing menjadi peran guru menggantikan orang tua. Masalah-masalah yang sering dijumpai di kelas antara lain ramai sendiri saat guru menerangkan pelajaran. Selain ramai sendiri, tidak dipungkiri juga murid yang ramai sendiri tadi akan mengajak teman sebelahnya untuk ramai. Ada pula murid yang selalu berkeliling dari bangku satu ke bangku yang lain.

Sering kali dijumpai siswa yang mengganggu temannya yang lain dengan berbagai cara, seperti melempar gulungan kertas, suka berbuat usil kepada temannya, sehingga temannya tidak konsentrasi lagi terhadap apa yang disampaikan oleh guru, bahkan ada yang asyik bermain game. Kondisi ini tentu tidak mendukung proses belajar mengajar di kelas. Guru harus kreatif menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan. Salah satunya dengan Sosiodrama.

Metode Sosiodrama dan Bermain Peranan (Role Playing Method) dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dalam waktu bersamaan dan silih berganti. Sosiodrama adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial. Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Kedua istilah ini disebut metode dramatisasi. Hanya bedanya kedua metode tersebut tidak disiapkan terlebih dahulu naskahnya.

Peranan sosiodrama digunakan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang, menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial dan rasa tanggung jawab dalam memikul amanah yang telah dipercayakan, partisipasi kolektif dalam mengambil suatu keputusan, dan bekal pengalaman yang berharga untuk terjun dalam masyarakat kelak, menghilangkan malu, di mana bagi siswa yang tadinya mempunyai sifat malu dan takut dalam berhadapan dengan sesamanya dan masyarakat dapat berangsur-angsur hilang, dan  mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa, sehingga amat berguna bagi kehidupannya kelak.

Langkah-langkah menggunakan dramatisasi, antara lain guru teknik pelaksanaan, membagi peran siswa, menjelaskan cerita yang akan dimainkan, latihan adegan dan pelaksanaan drama oleh siswa.  Pengalaman saya mengajar di SD, setelah saya menggunakan Role Playing Method  dalam pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang memerankan sebuah tokoh cerita rakyat “Timun Emas” ternyata siswa-siswi sangat antusias dan senang serta memahami isi cerita tersebut.

Jadi, menurut pendapat Role Playing Method tersebut sangat cocok sekali untuk diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar tingkat SD. Karena dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia banyak bab tentang cerita. Dalam hal ini guru tidak monoton membacakan isi cerita dan siswa-siswi sebagai pendengar saja yang ending-nya mereka akan merasa bosan dan jenuh.

Untuk mengatasi kebosanan dan kejenuhan siswa-siswi tersebut, maka guru harus menggunakan metode yang sesuai dengan materi yang diajarkan, supaya siswa-siswi lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran di kelas untuk mendapatkan hasil yang baik dan sesuai dengan yang guru inginkan. (*/aro)