Manfaatkan Celana Jins Bekas hingga Karung Goni

Dwyas Ayu Widowati Sulap Barang Bekas Jadi Produk Bernilai Jual

1491
DAUR ULANG: Dwyas Ayu Widowati menunjukkan produk tas dari celana jins bekas (Nathaza Ayudya/Jawa Pos Radar Semarang).
DAUR ULANG: Dwyas Ayu Widowati menunjukkan produk tas dari celana jins bekas (Nathaza Ayudya/Jawa Pos Radar Semarang).

Celana jins bekas kerap hanya menjadi kain lap atau dibuang begitu saja. Tetapi di tangan Dwyas Ayu Widowati, sisa kain itu bisa disulap menjadi aneka tas yang bernilai jual tinggi. Semua produksi dari bahan limbah itu pun dipajang di  SUH Gallery Salatiga. Seperti apa?

NATHAZA AYUDYA

TEMPAT pembuatan tas dari barang bekas tersebut awalnya dinamai SUH Upcycle and Art.  Namun saat ini berganti nama menjadi SUH Gallery. Filosofi dari nama SUH sendiri diambil dari istilah Bahasa Jawa, yakni ikat sapu lidi yang terbuat dari rotan atau bambu.

“Kami berharap dari nama SUH ini dapat menjadi pemersatu, khususnya dalam hal mengajak masyarakat agar selalu ramah lingkungan,” pemilik SUH Gallery, Dwyas Ayu Widowati, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Galeri yang dirintis Ayu dibantu suaminya, Wahyu Yunianto, berlokasi di rumahnya, Jalan Arimbi, Dukuh Grogol RT 06 RW 04, Salatiga. Motivasinya mendirikan usaha upcycle ini dimulai dari keanggotaannya di Komunitas TUK Salatiga yang bergerak di bidang lingkungan dan sosial.

“Saya ikut program daur ulang sampah plastik di Komunitas TUK. Setelah program itu selesai, saya melihat banyak celana jins bekas kok sayang kalau nggak dimanfaatin, terus saya nyoba membuat totebag yang bahannya dari celana jins nggak kepakai tersebut. Ternyata banyak yang berminat. Ada teman yang membelinya,” kenang Ayu kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sejak itu, ia memberanikan diri membuka usaha upcycle ini dengan modal awal Rp 300 ribu dan satu mesin jahit. Untuk bahan dasar kain perca, ia ambil dari beberapa teman yang memiliki pakaian atau celana jins tidak terpakai, namun warnanya masih bagus.

“Dulu mengambil bahan dasarnya dari celana jins saya sendiri yang sudah nggak terpakai, juga dari teman-teman yang memiliki celana jins udah nggak kepakai tapi warnanya masih bagus,” katanya.

Selan limbah celana jins, Ayu juga memanfaatkan karung goni. Limbah tersebut kini diambil dari para pengepul baju bekas yang masih layak pakai, dan dari  pasar tradisional yang letaknya ada di Salatiga dan Magelang. Bagaimana pemasaran produknya?

Menurut Ayu, untuk memasarkan produk dari usahanya yang sudah berjalan sejak 2013 ini, ia memanfaatkan media sosial, Instagram.  Karena lewat online shop itu, kini penjualannya sudah merambah hingga seluruh Indonesia. “Ada juga pembeli dari luar negeri, yakni warga Kanada saat liburan di Bali, jadi kami kirim ke sana,” ujar Ayu.

Untuk membuat setiap pesanan, Ayu butuh waktu selama 5-10 hari. Produk SUH Gallery mulai tas totebag, bagpack, slingbag, dan poch. Selain terbuat dari bahan ramah lingkungan, harganya juga terjangkau mulai  Rp 15 ribu sampai Rp 250 ribu. “Selain terjangkau, pembeli juga dapat meng-custom orderannya. Misalnya, mau dibuat panjang atau pendek, atau kainnya yang robek-robek dan bisa diberi gambar atau patch,” katanya.

Saat ini, Ayu juga tengah mencoba memanfaatkan kulit bekas untuk dijadikan tas. Selain tas, dompet, dan poch, SUH Gallery juga menerima sketch digital art untuk kaos. Harapannya, usaha yang dijalaninya ini akan semakin diminati warga, juga sekaligus kampanye produk ramah lingkungan. (*/aro)