Ikrar Cinta Tanah Air dan Pancasila

680
TAHLIL KEBANGSAAN: Para santri mengikuti Tahlil Kebangsaan yang dipimpin Habib Umar Muthohar di kompleks Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, kemarin (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TAHLIL KEBANGSAAN: Para santri mengikuti Tahlil Kebangsaan yang dipimpin Habib Umar Muthohar di kompleks Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, kemarin (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG Puluhan ribu santri membanjiri kawasan Simpang Lima Semarang, Minggu (22/10). Mereka mengikuti Kirab Santri atau jalan sehat untuk memeriahkan puncak Hari Santri Nasional (HSN) hasil kerja bareng Pemkot Semarang dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang.

Rangkaian Kirab Santri dimulai dari Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Sebelum konvoi menuju Lapangan Pancasila Simpang Lima, sekitar pukul 06.00, para santri dengan khusyuk mengikuti Tahlil Kebangsaan yang dipimpin Habib Umar Muthohar. Mereka juga memanjatkan doa demi kemakmuran bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Harapan hidup damai dan rukun di tengah perbedaan agama pun digembar-gemborkan.

Puas berdoa, sekitar pukul 07.00, ribuan santri mulai berjalan iring-iringan menuju Lapangan Pancasila. Mengular di sepanjang Jalan Pahlawan. Mereka membawa bendera NU dan atribut pondok pesantren masing-masing. Ada sejumlah santri yang membentangkan bendera Merah Putih panjang.

Jalan Pahlawan menjadi sangat padat, mengingat pada pagi itu ada banyak acara masal yang sudah menjadi ikon car free day (CFD) saban Minggu. Meski begitu, suasana tampak kondusif. Tidak ada kericuhan yang terjadi, meski suasananya benar-benar crowded selama nyaris seperempat jam kirab.

Sesampainya di Lapangan Pancasila, para santri mengikrarkan janji kesetiaan dan kecintaan Tanah Air dan Pancasila. Setelah itu, mereka disuguhi banyak hiburan. Seperti parade budaya nusantara, barongsai, drumband, rebana, hingga atraksi pencak silat Pagar Nusa.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang, KH Anasom, menjelaskan, Kirab Santri ini tidak hanya diikuti santri dari pondok pesantren. Warga Semarang pun banyak yang ikut berpartisipasi.

“Kirab ini memang tidak khusus untuk santri. Semua boleh ikut, asal harus menggunakan sarung bagi peserta pria,” ucap Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini.

Layaknya jalan sehat pada umumnya, pihaknya menyediakan doorprize. Hadiah kejutan itu tergolong sangat banyak. Mulai dari sepeda motor, sepeda gunung, peralatan elektronik, hingga tiket umrah. “Kami menyediakan ratusan hadiah dari infaq para donatur, pemerintah, DPR, pengusaha, dan masyarakat. Pak Wali (Wali Kota Semarang) memberikan sepeda motor dan tiket umrah sebagai doorprize,” terangnya.

Dijelaskan, Kirab Santri ini digelar serentak nyaris di seluruh kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Harapannya, seluruh santri dari berbagai wilayah tetap bisa berpartisipasi dalam puncak peringatan HSN.

Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menjelaskan, penetapan HSN harus menjadi pemicu para santri untuk belajar lebih keras dan sungguh-sungguh. “Prestasi tidak dilihat dari fisik saja. Ganteng, jelek, kaya, atau miskin. Hari ini, semua itu harus disingkirkan. Prestasi itu sekarang, ya pintar baca Alquran, pintar matematika, fisika, dan lainnya,” ucapnya.

Menurutnya, HSN yang dimasukkan dalam kalender nasional, menunjukkan bahwa pemerintah telah mengakui eksistensi para santri. Menjadi salah satu pilar yang bisa menyokong percepatan pembangunan SDM. “Semoga di peringatan ini Kota Semarang bisa menjadi lebih adem, lebih sejuk, karena aura kawan-kawan santri semua,” harapnya.

Hendi pun berpesan agar para santri tidak saling menjelekkan satu sama lain. Termasuk mencela kepercayaan lain hingga memicu perpecahan. Baginya, menjaga kesatuan dan peratuan antarumat menjadi salah satu tugas santri. “Ini waktunya saling mengisi satu sama lain. Bersatu agar tidak bisa dipecah belah,” tegasnya. (amh/aro)