Jateng Bidik Tuan Rumah Binaraga PON XX

983
GEBER PEMBINAAN: Ketua Umum Pengprov Persatuan Angkat Besi, Berat dan Binaraga (PABBSI) Jateng Mayjend TNI (purn) Sunindyo didampingi Ketua Harian Agus S Winarto dan Kabid Perwasitan PB PABBSI Ubaidillah di Gedung eks Monod Diephuis, Semarang (BASKORO SEPTIADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
GEBER PEMBINAAN: Ketua Umum Pengprov Persatuan Angkat Besi, Berat dan Binaraga (PABBSI) Jateng Mayjend TNI (purn) Sunindyo didampingi Ketua Harian Agus S Winarto dan Kabid Perwasitan PB PABBSI Ubaidillah di Gedung eks Monod Diephuis, Semarang (BASKORO SEPTIADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Jawa Tengah siap menjadi tuan rumah cabang olahraga binaraga pada PON XX yang akan berlangsung pada 2020 mendatang. Pengprov Persatuan Angkat Besi, Berat dan Binaraga (PABBSI) Jateng menawarkan kesediannya, apabila Papua sebegai tuan rumah PON XX tidak menyelenggarakan salah satu cabor dalam PABBSI tersebut.

Kesiapan tersebut disampaikan Ketua Umum Pengprov PABBSI Jateng Mayjend TNI (Purn) Sunindyo, setelah Papua sebelumnya menyatakan tidak mempertandikan binaraga. Untuk cabor PABBSI, Papua hanya akan mempertandingkan angkat besi dan angkat berat dengan alasan ketiadaan sarana pendukung seperti venue pertandingan dan terbatasnya akomodasi peserta serta perangkat pertandingan.

“Kalau memang Papua tidak menggelar cabor binaraga pada PON XX/2020, maka Jateng menyatakan kesediannya sebagai tuan rumah khusus cabor binaraga tersebut. Bukan apa-apa, kasihan para atlet binaraga di seluruh Indonesia yang selama ini berlatih keras. PON dilaksanakan empat tahun sekali, kalau sampai binaraga tak diadakan, para atlet akan kehilangan kesempatan meraih prestasi nasional,” tegas Sunindyo.

Bahkan untuk itu, dirinya telah bertemu langsung dengan Ketum KONI Pusat Tono Suratman untuk menyampaikan hal tersebut. Berdasarkan informasi dari KONI Pusat, merujuk kesiapan tuan rumah hingga saat ini hanya 38 cabang yang akan dipertandingkan pada PON XX mendatang. “Yang diprioritaskan adalah nomor-nomor olimpiade dan SEA Games,” ucap Sunindyo yang juga mantan Pangdam IV/Diponegoro ini.

Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan pada saat PON XIX/Jabar yang mempertandingkan 44 cabang olahraga. Papua sebagai tuan rumah PON diperkirakan hanya mampu menampung sekitar 6.000 peserta. Berbeda dengan Jabar yang mengcover lebih dari 9.000 atlet dan ofisial.  “Respon Ketua Umum KONI Pusat saat itu cukup bagus. Jika benar-benar terwujud, karena letaknya yang strategis dan fasilitas yang dimiliki cukup representatif, kami kira provinsi lain tidak akan keberatan,” kata Sunindyo.

Apalagi, sambung Sunindyo, penyelenggaraan ajang multievent olahraga sudah jamak dilaksanakan di lebih dari satu daerah. Sebut saja Asian Games 2018 yang akan dilaksanakan di Jakarta dan Palembang.

Selain keterbatasan sarana yang dimiliki, penghapusan cabang binaraga pada PON mendatang juga dipicu sejumlah kasus doping pada PON XIX Jawa Barat. Dari catatan KONI Pusat, ada 12 atlet yang terindikasi doping dan, delapan atlet di antaranya berasal dari cabang binaraga.

Menurut Ketua Harian Pengprov PABBSI Jateng, Agus S Winarto, pencoretan cabang olahraga dengan alasan banyak atletnya yang terindikasi doping sangat tidak bijaksana. Dirinya mendukung jika atlet yang terindikasi menggunakan doping mendapatkan sanksi tegas, namun bukan dengan cara mematikan cabang olahraganya. “Namun jika hanya menjatuhkan sanksi tanpa pernah sekalipun melakukan edukasi, dimana fungsi pembinaannya,” kata Agus.

Terkait pelaksanaan kejurnas, di saat yang bersamaan Pengprov PABBSI Jateng juga menggelar tiga event lain yakni Pra Kualifikasi Porprov, Liga PABBSI Jateng serta Body Contest Pemula. Seluruh kegiatan tersebut digelar di Hotel UTC Jalan Kelud Raya, 8-9 Desember 2017. “Semula kejurnas akan digelar di Kepuluan Riau, namun di saat terakhir mereka menyatakan tidak sanggup. PB PABBSI akhirnya meminta kami untuk menggelar kejurnas,” ujarnya. Selain medali dan trofi, total hadiah uang yang diperebutkan di empat event tersebut mencapai Rp 400 juta. (bas)