Lahan Berkurang, Petani Salak Harus Berinovasi

514
PERTANIAN: Anggota Komisi VII DPR RI Tjatur Sapto Edy saat menjadi narasumber pelatihan mengolah salak di Hotel Artos, Magelang, Jumat (20/10) lalu (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu).
PERTANIAN: Anggota Komisi VII DPR RI Tjatur Sapto Edy saat menjadi narasumber pelatihan mengolah salak di Hotel Artos, Magelang, Jumat (20/10) lalu (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu).

MAGELANG –Lahan pertanian salak di beberapa wilayah Jateng semakin berkurang. Petani lebih memilih menanam komoditas lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.

“Kita memang tidak membantah bahwa saat ini lahan pertanian salak semakin berkurang akibat tergerus perkembangan nilai tanah yang semakin tinggi. Namun demikian ada sisi positifnya bahwa petani salak dituntut untuk lebih kreatif memasarkan salak dalam bentuk lain yang lebih menarik,” papar Anggota Komisi VII DPR RI Tjatur Sapto Edy seusai menjadi pembicara “Pelatihan Pengembangan Kapasitas Petani Salak dalam Pengolahan Salak Menjadi Produk Inovatif dan Bernilai Tambah” di Hotel Artos, Magelang, Jumat (20/10) lalu.

Selain berinovasi dalam mengolah produk salak, petani juga harus kreatif dalam memanfaatkan potensi lahan salak sebagai alternatif tambahan berupa wisata kebun salak. Menurut Tjatur, potensi yang akan semakin berkembang adalah di bidang pariwisata. “Nah harapannya, para petani salak mampu kreatif mendesain kebun salaknya sebagai wisata pilihan, seperti wisata kebun strawberry yang sudah berjalan,” jelas Tjatur.

Terkait strategi pemasaran, Tjatur memberikan alternatif memanfaatkan teknologi informasi melalui internet atau online, bahkan menggunakan sistem e-commerce yang sudah ada. (cr3/ton)