Meningkatkan Disiplin Siswa lewat Satgas GDS

2001
Oleh: Drs Agus Sudaryanto
Oleh: Drs Agus Sudaryanto

SEMUA sepakat bahwa kekerasan dalam sekolah harus dihindari. Baik kekerasan yang berbentuk fisik maupun verbal. Kekerasan yang datang dari guru ke siswa maupun siswa dengan siswa lain atau disebut bullying. Tindakan yang dilakukan terhadap siswa yang melakukan pelanggaran sekolah harus ditangani dengan cara-cara yang manusiawi dan bijaksana lebih mengarah ke konseling. Tetapi perlu dipahami, kadang tidak semua siswa mempan untuk mendapatkan konseling dan tindakan persuasif. Kadang dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh siswa yang berpotensi membuat ketidaktertiban dalam sekolah malah menjadi-jadi. Lantas, bagaimana solusi yang tepat dalam menghadapi permasalahan seperti ini?

Ketertiban sekolah menjadi makanan utama pada setiap sekolah. Semakin tinggi ketertiban  sekolah, maka semakin mudah dalam mencapai keberhasilan, baik berhasil dalam bidang akademik maupun non akademik. Ketertiban juga cerminan dari keindahan sekolah dalam menjalankan rada pembelajaran. Ada beberapa faktor dalam menjadikan sekolah bisa  tertib dan disiplin, antara lain:

Pertama, tata tertib. Tata tertib dibuat untuk mengatur siswa agar dalam kegiatan di sekolah siswa dapat melaksanakan aturan –aturan yang ada pada tata tertib tersebut. Tata tertib dibuat secara ringkas, jelas dan padat serta tidak bertele-tele, tetapi bisa mencakup semua  permasalahan siswa di sekolah. Tata tertib bisa dibuat lebih praktis,  seperti buku saku yang mana siswa dapat membaca dan memahami secara mudah isi dari tata tertib tersebut.

Tata tertib sebagai sarana untuk menertibkan dan mendisiplinkan siswa di sekolah harus disertai dengan sanksi-sanksi yang jelas juga. Sanksi-sanksi bisa dibuat secara bertahap dari peringatan teguran, hingga peringatan secara tertulis. Tata tertib harus membuat jera si pelaku, sehingga harus bersifat tegas tanpa adanya kekerasan di dalamnya. Sehingga siswa yang melakukan pelanggaran bisa berubah ke arah yang lebih baik penuh kesadaran.

Kedua, guru pengajar. Guru adalah penegak ketertiban dan kedisiplinan di sekolah. Semua guru harus sepakat dengan adanya tata tertib yang dibuat di sekolah. Semua guru harus membaca dan tahu isi tata tertib yang dibuat. Jangan sampai terjadi perbedaan persepsi terhadap tata tertib yang dibuat, atau tata tertib menjadi multitafsir di kalangan guru.

 Kompak

Kekompakan guru satu dengan guru yang lain dalam menertibkan dan mendisiplinkan siswa menjadi taruhannya. Bila ada guru yang getol menegakkan ketertiban dan kedisiplinan, tetapi di sisi lain ada guru yang lemah dalam menegakkan ketertiban dan kedisiplinan, maka siswa akan mencari celah untuk mencari suaka pada guru yang lemah. Perbedaan sikap yang demikian akan membahayakan stabilitas sekolah. Di mata siswa, guru sangat kurang berwibawa.

Ketiga, sarana dan prasarana di sekolah. sarana dan prasarana di sekolah juga dapat mempengaruhi ketertiban dan kedisiplinan siswa. Sarana prasarana harus mendukung dan dibutuhkan untuk menertibkan dan mendisiplinkan siswa. Tata tertib dan guru akan tidak bisa berbuat banyak apabila sarana dan prasarana kurang mendukung. Misalnya, guru akan mendisiplinkan siswa dalam kebersihan lingkungan, tetapi bak sampah, sapu, dan perangkat lainnya tidak ada, maka sulit rasanya kegiatan tersebut tercapai. Karena siswa akan membuang sampah di sembarang tempat. Begitu juga dengan sarana prasarana sekolah lainnya.

Keempat, Satgas GDS. GDS adalah Gerakan Disiplin Siswa. Satgas GDS harus dibentuk pada setiap sekolah yang terdiri atas unsur guru dan siswa. Unsur guru bisa dari staf kesiswaan dan anggotanya. Yang bertugas memantau setiap perilaku siswa dalam setiap kegiatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Apabila terjadi pelanggaran, bisa ditulis dan ditandatangani pada buku saku yang dbawa  siswa setiap hari disertai berapa poin yang tertulis pada buku saku tersebut.

Sedangkan dari siswa bisa membantu guru dalam menegakkan ketertiban dan kedisiplinan siswa  yang terbentuk dalam Satgas GDS. Satgas GDS ini mempunyai peran mengingatkan dan membantu dalam menertibkan dan mendisiplinkan siswa setiap hari. Alat pembedanya bisa menggunakan jaket bertuliskan Satgas GDS dengan warna yang mencolok di punggung mereka. Satgas GDS bahkan lebih ampuh dalam menangani tindakan ketertiban dan kedisiplinan siswa karena siswa terlibat langsung dalam hal ini. Siswa yang melakukan pelanggaran akan merasa malu bila dingatkan oleh kakak –kakak/tema-teman mereka.

Satgas GDS lebih ampuh dalam menangani ketertiban dan kedisiplinan siswa, karena tata tertib dibuat dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa siswa. Sehingga ada komitmen bersama yang dibuat melalui Majelis Perwakilan Kelas dengan Satgas GDS dalam kegiatan musyawarah sekolah di setiap tahunnya. (*/aro)