Gagasan Sekolah yang Menyenangkan

1196
Oleh: Maskuri SPd
Oleh: Maskuri SPd

GURU kini dituntut peka terhadap perkembangan zaman, tidak bisa disamakan dengan beberapa tahun yang lalu. Guru sekarang harus terus memperbarui informasi-informasi, sebagaimana data dari education for all (EFA) Global Monitoring Report 2011 yang dikeluarkan oleh UNESCO bahwa indeks pembangunan pendidikan atau education development index (EDI) pada 2008, ranking kualitas pendidikan di Indonesia menempati posisi ke-69 dari 127 negara.

Hal ini membuktikan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia perlu adanya pembenahan secara maksimal. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah lemahnya pelaku pendidikan, utamanya peran guru dalam menerapkan sistem pengajaran di sekolah. Siswa akan merasa tidak nyaman dan tidak bosan ketika belajar di sekolah karena sistem pengajaran guru belum  membuat siswa menyenangkan.

Menanggapi permasalahan tersebut, bagi penulis apakah sistem pendidikan di Indonesia sudah sesuai dengan tujuan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan? Ataukah tujuan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan berasal dari pengajaran guru?

Menengok Finlandia salah satu negara di Eropa Utara yang merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, hasil  survei organization for economic cooperation and development (OECD), bahwa sistem pendidikan di Finlandia tidak menekankan siswa dalam belajar, seperti dengan penambahan jam mengajar, tugas PR,  kedisiplinan, maupun tes. Justru malah jumlah jam mengajar per minggu hanya 30 jam pelajaran atau 5 jam pelajaran dalam sehari, serta tidak ada sistem ranking bagi siswa. Ini membuktikan bahwa Finlandia merupakan negara yang sangat mementingkan kualitas pendidikan dengan menitikberatkan pada kenyamanan belajar siswa di sekolah.

Hal ini kontradiktif dengan apa yang ada pada sistem pendidikan  di Indonesia. Di mana masih mengutamakan pada target-target materi yang harus disampaikan dan nilai minimal yang harus dituntaskan. Disamping itu, sekolah di Indonesia terbiasa dengan memberikan penekanan bagi siswa, baik penambahan jam belajar, sistem kedisiplinan, pemberian tugas PR, dan tes sehingga siswa merasa tertekan dan stres ketika berada di sekolah. Dampak yang terjadi, siswa tidak masuk sekolah, membolos, ngantuk di kelas, tidak fokus pada materi pelajaran, main android karena siswa tertekan dan tidak nyaman ketika berada di sekolah.

Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia memang dengan mengutamakan melalui hasil  prestasi belajar siswa. Jika kualitas pendidikan  meningkat, maka secara otomatis prestasi siswa akan meningkat. Namun realita yang ada justru dengan adanya penekanan terhadap prestasi siswa, akan membuatnya tertekan dan merasa tidak nyaman dan senang ketika belajar di sekolah yang berdampak pada tidak maksimalnya  prestasi belajar siswa.

Lima S

Guna mewujudkan sekolah tempat pendidikan yang fun, ada beberapa hal yang bisa digunakan untuk menciptakan, antara lain: Pertama, pembelajaran  lima ‘S’. Yakni, pembelajaran di dalam kelas (intrakurikuler) maupun di luar ruangan kelas (ekstrakurikuler) dilaksanakan dengan senyum, sapa, salam, sopan dan santun pada anak. Maka guru profesional dan fasilitas belajar yang memadai, menjadi penting dalam menciptakan suasana pembelajaran fun bagi siswa.

Kedua, lingkungan fisik sekolah nyaman. Lingkungan fisik sekolah yang bersih, indah,  tertata rapi dan hijau akan membuat siswa merasa betah berada di sekolah. Artinya, ruang kelas belajar yang terasa nyaman serta taman kelas dan taman lingkungan sekolah yang hijau akan membuat pikiran warga sekolah menjadi sejuk.

Ketiga, lingkungan sosial yang kondusif. Lingkungan pergaulan sosial antar sesama warga sekolah ternyata ikut menentukan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan. Gambarannya, di sekolah terpelihara jalinan komunikasi sosial yang harmonis antara guru dan kepala sekolah, guru dengan siswa dan antar sesama siswa. Kehadiran lingkungan yang semikian akan senantiasa di rindukan oleh mereka setiap hari.

Keempat, disiplin sekolah. Adanya aturan dan tata tertib yang dibuat disertai dengan perangkat sanksi dan hukuman akan mendidik dan menciptakan suasana kesadaran mematuhi segala aturan dan tata tertib sekolah. Maka, kedisiplinan warga sekolah akan membuahkan suasana yang fun bagi sesama.

Kelima, kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler terkadang menjadi brand sebuah sekolah. Sekolah akan terkenal justru karena kegiatan ekstrakurikuler, utamanya sekolah yang mempunyai banyak siswa berbakat dan manajerial handal. Jadi, memanajemen segala potensi minat dan bakat siswa dengan program kegiatan ekstrakurikuler yang beragam akan memunculkan potensi yang dibutuhkan sekolah.

Konsep sekolah sebagai tempat yang menyenangkan tentu harus menjadi sistem pendidikan di Indonesia dan menjadi visi bagi seluruh guru. Artinya guru harus dapat memberikan motivasi yang lebih efektif bagi siswa agar mereka merasa nyaman dan senang belajar di sekolah. Apalagi menurut Wigih Adi Wibawa (2013), pembelajaran yang efektif adalah suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan, dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, guru dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna. Dan jika sistem pembelajaran yang dilakukan guru membuat belajar siswa menyenangkan, tentu siswa akan betah dan nyaman  berada di sekolah. (*/aro)