Santri NU Bantu Muslim Rohingya Rp 100 Juta

498
SANTRI : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, saat menghadiri acara satu miliar Salawat Nariyah dan pemberian bantuan kepada muslim Rohingya, di pendopo Bupati Pekalongan di Kajen (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang).
SANTRI : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, saat menghadiri acara satu miliar Salawat Nariyah dan pemberian bantuan kepada muslim Rohingya, di pendopo Bupati Pekalongan di Kajen (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang).

KAJEN- Bupati Pekalongan Asip Kholbihi dan warga Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shodaqoh (LAZISNU) Kabupaten Pekalongan, menggelar salawat dan memberi bantuan dana Rp 100 juta kepada warga muslim Rohingya, Myanmar, Minggu (22/10) malam kemarin.

Bantuan tersebut diserahkan oleh Wakil Ketua PCNU H Imronuddin, kepada Sekretaris LAZISNU Jawa Tengah Zaenudin, dengan disaksikan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, usai pembacaan satu miliar Salawat Nariyah, di pendopo Bupati Pekalongan, Kajen. Kegiatan merupakan rangkaian dari peringatan Hari Santri Nasional.

Sebelum dilakukan pembacaan Salawat Nariyah oleh para santri, dan seluruh tamu undangan yang hadir, bupati memberikan pembekalan untuk seluruh santri, agar lebih giat dan semangat dalam menuntut ilmu, karena santri merupakan generasi penerus bangsa.

Bupati Asip menuturkan bahwa peran serta ulama dan santri, dalam pembangunan sangat penting, sebagai keseimbangan dan kekuatan dalam menciptakan kondisi gemah ripah loh jinawi. Bahkan santri juga bisa menjadi pemimpin di masyarakat.

Menurutnya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, santri diminta untuk bisa fokus menuntut ilmu, tidak hanya ilmu di pesantren, termasuk ilmu-ilmu pendidikan formal. Sehingga, usai menuntut ilmu, dapat menjadi SDM andal dan memiliki kelebihan khusus di masyarakat.

“Saya juga berasal dari santri. Selama 10 tahun saya mondok, dan hasilnya sekarang alhamdulillah bisa menjadi bupati. Mudah-mudahan jejak ini bisa menjadi motivasi dan diikuti oleh santri-santri di Kabupaten Pekalongan. Kalau mondok sampai 20 tahun, mungkin bisa jadi presiden,” tutur Bupati Asip.

Bupati Asip juga menegaskan agar para santri untuk melakukan tugasnya secara baik yakni belajar. Kemudian memanfaatkan momentum di pesantren sebaik mungkin, karena mondok merupakan sebuah pilihan, tidak semua orang bisa melakukannya.

Menurutnya untuk dapat memberikan akreditasi bagi santri untuk memiliki ijazah formal, pihaknya akan menjalin komunikasi dan kerjasama dengan kementerian agama, agar santri bisa mendapatkan ijazah mulai dari sanawiyah, aliyah, hingga sarjana.

“Jadi tugas santri itu sinau, ngaji, wiridan, kalau bisa bangun malam melakukan salat malam, kalau bisa lagi puasa. Jadi tugas utamanya adalah belajar, fokus pada kegiatan belajar. Sebab mondok itu hanya dilakukan orang-orang pilihan saja, yang tergerak hatinya,” tegas Asip.

Pada acara satu miliar Salawat Nariyah, selain penyerahan bantuan kepada warga muslim Rohingya Myanmar, diserahkan pula beasiswa bagi 10 santri dan bantuan dana modal usaha bagi 2 santri. Bantuan tersebut dari LAZISNU Kabupaten Pekalongan, dan diserahkan oleh Ketua Tanfidziyah PCNU KH Muslih Khudori. (thd/zal)