Gudang Pestisida Ilegal Digerebek

Omzet Per Bulan Capai Rp 300 Juta

672
DIGEREBEK: Aparat Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng menunjukkan pestisida ilegal yang disita dari gudang di Desa Kembangarum, Mranggen, Demak, kemarin *(ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
DIGEREBEK: Aparat Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng menunjukkan pestisida ilegal yang disita dari gudang di Desa Kembangarum, Mranggen, Demak, kemarin *(ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANGSebuah gudang pestisida ilegal di Desa Kembangarum, Mranggen, Demak digerebek aparat Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. Selain menyita ribuan barang bukti, petugas juga mengamankan pemilik gudang, Suparno, yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Suparno sendiri terlibat bisnis pestisida ilegal sejak 2008 dengan omzet Rp 300 juta per bulan.

Kasus ini terbongkar bermula dari informasi masyarakat kalau di wilayah Demak beredar pestisida pembasmi rumput yang diduga llegal pada 20 September 2017 lalu. Dari informasi itu, polisi melakukan penyelidikan hingga berhasil menemukan gudang tempat penyimpanan ribuan botol pestisida yang diduga ilegal.  Hingga akhirnya, petugas menggerebek gudang tersebut pada Senin (23/10) lalu.

“Setelah dilakukan penyelidikan, diketahui tempat itu dipakai untuk kegiatan produksi dan mengedarkan pestisida jenis herbisida merek Posat 480 SL, Bravoxone 276, Biona 480 SL dan Kresna UP 525 SL ukuran 200 liter yang dikemas ulang tanpa label dan belum terdaftar di Kementan RI,” ungkap Kasubdit I Indagsi Direktorat Reskrimsus Polda Jateng AKBP Egi Andrian Suez kepada Jawa Pos Radar Semarang di lokasi, Rabu (25/10).

Dari gudang tersebut, polisi mengamankan barang bukti 36 drum berisi 200 liter Bravoxone, 36 drum berisi 200 liter Posat, 45 drum berisi Kresna Up, 86 botol bening Posat, 223 botol putih Bravoxone, 19 jerigen Kresna Up, 61 jerigen Bravoxone, 12 jerigen Roundop berisi Bravoxone biru, 7 jerigen Roundop berisi Bravoxone warna kuning, satu alat mixer serta pompa air.

“(Pestisida) Itu ilegal. Bisa kami katakan ilegal, karena dia mengemas sendiri mengedarkan sendiri tidak ada izinnya,” tegasnya.

Pihaknya menjelaskan, pembuatan pestisida memiliki aturan tertentu yang harus dipenuhi dalam rangka produksi untuk menentukan peredarannya. Sehingga pestisida ini didesain dan diedarkan tidak dengan cara sembarangan. Namun perlu tahapan-tahapanya untuk memperoleh izinnya.

“Itu tercantum dalam Permendag No 39 Tahun 2015. Yakni, harus melalui rangkaian uji, yang pertama untuk mendapatkan izin percobaan, itu satu tahun, dan tidak bisa dikomersilkan. Setelah itu, baru izin tetap, baru bisa dikomersilkan. Jadi, harus diberi merek yang sudah terdaftar di Dirjen Haki,” jelasnya.

Menurutnya, pembuatan pestisida memiliki aturan yang tercantum pada pasal 60 ayat (1) UU RI Nomor 12 tahun 1992 tentang budidaya tanaman. Sehingga pembuatan pestisida yang diproduksi maupun diedarkan secara benar dapat aman, terutama untuk kesehatan maupun lingkungan.

“Karena ini isinya virus dan zat kimia. Tujuanya untuk mematikan. Jadi mematikan rumputnya saja, tapi jangan sampai mematikan lingkungan hidupnya,” terangnya.

Selain menyita barang bukti tersebut, petugas juga mengamankan pemilik gudang bernama Suparno yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Berdasarkan keterangan pemilik gudang, Egi mengatakan, bisnis pestisida itu sudah dirintis tersangka sejak 2008 silam. Sedangkan pestisida ilegal tersebut dimulai pada 2011, dan dijual di tokonya.

“Tersangkanya baru satu. Pengakuannya, awalnya dia merintis dari nol, jadi tidak langsung besar. Omzetnya Rp 300 juta per bulan, peredaran di wilayah Demak, Boyolali, Kendal dan Semarang,” bebernya.

Penyidik juga mendapat pengakuan dari tersangka Suparno kalau dalam memproduksi pestisida tersebut menggunakan bahan-bahan yang didapat dari Jakarta menggunakan drum-drum. Bahkan, bahan baku yang diambil tersangka dari Jakarta juga diklaim memiliki label.

“Masih kita klarifikasi, nanti masih kita dalami. Sementara ini bahan baku yang diedarkan masih ilegal, karena tidak ada izinya,” terangnya.

Pihaknya akan mengirim sampel pestisida dan bahan bakunya ke laboratorium. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui barang tersebut sesuai komposisi pembuatan pestisida yang benar dan sesuai aturan perundangan atau tidak. “Pestisida ini hanya oplosan atau tidak, perlu uji lab,” tegasnya.

Saat ini petugas masih mendalami kasus ini guna mengungkap adanya tersangka lain yang terlibat. Atas perbuatannya, pemilik gudang akan dijerat pasal berlapis, yakni pasal 60 ayat (1) UU RI Nomor 12 Tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp 250 juta, serta dijerat UU RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda hingga Rp 2 miliar. (mha/aro)