Kontinuitas, Kunci Sukses Bentuk Karakter

678
Oleh: Mukhsin SAg
Oleh: Mukhsin SAg

KEMAJUAN teknologi dan komunikasi di era milenial dan digital sekarang ini, bak arus gelombang tsunami yang sangat deras dan susah untuk dibendung. Berbagai kemudahan dan fasilitas ditawarkan, mulai dari handphone, gadget dengan berbagai fitur, aplikasi, game dan segala jenisnya, hari ini sudah merambah ke seluruh pelosok negeri dan dinikmati oleh semua kalangan. Bahkan, anak-anak yang masih di bawah umur sekarang ini teknologi tersebut bukan barang asing lagi.

Tentunya persoalan ini tidak bisa dianggap enteng oleh orangtua dan kalangan pendidikan pada umumnya. Kemajuan teknologi dan komunikasi ini bisa menggerus dan meruntuhkan nilai-nilai karakter agama dan karakter anak-anak bangsa Indonesia, bila tidak diantisipasi oleh orangtua dan para guru.

Anak-anak era kini dengan mudah bisa mengakses berbagai macam informasi dan fitur-fitur yang sebenarnya belum layak dikonsumsi oleh mereka. Mereka belum bisa menyaring informasi yang diterima, budaya dan karakter yang tidak Islami serta budaya yang tidak mencerminkan budaya bangsapun menjadi tontonan anak-anak kita sehari-hari. Jadilah, anak-anak di era sekarang sudah gandrung dan sibuk sendiri dengan game online, sehingga menjauh dari kehidupan sosial dan permainan-permainan tradisional yang lebih mendidik.

Karakter Meluntur

Melalui gambaran tersebut, tentu kita harus me-review ulang beberapa karakter yang nyata-nyata meluntur, dari karakter ketuhanan, rasa bersyukur dan berkurangnya amalan ibadah sesuai dengan agamanya. Terbukti dengan teknologi, banyak waktu yang dihabiskan dari pada untuk meluangkan  kewajiban ibadah.

Karakter sosial yang berjumlah 10 butir, yang tertuang dalam standar kompetensi pada kurikulum 2013, jujur, disiplin, tanggungjawab, gotong-royong, kerja sama, toleran, damai, santun, responsif, proaktif, telah pula mengalami pengikisan. Buktinya, pada saat beberapa murid bertemu gurunya di jalan, mereka tidak peduli lagi dengan guru. Bahkan jika naik sepeda motor, malah mengencangkan laju kendaraannya, dan tak terlihat pula kepedulian terhadap lingkungan berupa membuang sampah masih saja tidak pada tempatnya. Apalagi kesantunan, mulai memudar, terbukti bicara sopan, menghargai yang lebih tua, telah beralih kepada menganggap yang lebih tua adalah sahabat saja, yang mengakibatkan tidak pentingnya unggah-ungguh.

Meski kemajuan teknologi juga memiliki dampak positif, namun meminimalisasi dampak negatif itu penting. Maka harus dicarikan solusi dan cara yang tepat untuk membentuk karakter anak-anak kita oleh orangtua dan khususnya oleh lembaga pendidikan. Pembentukan karakter bisa dilakukakn oleh lembaga pendidikan dari hal-hal sederhana secara rutin di sekolah atau madrasah.

“Apik ora terus ora apik, ora apik ora terus luwih apik tinimbang apik tapi ora terus”.  Ungkapan dari para leluhur Jawa yang adiluhung tersebut sarat dengan makna yang sangat bijak, baik dan berharga dalam kehidupan kehudupan sehari-sehari, yang apabila dimaknai secara bebas dan singkat artinya dalam menjalankan sesuatu yang baik harus dilaksanakan secara kontinu, ajeg dan istiqomah.

Dalam dunia pendidikan, pembentukan karakter peserta didik secara kontinyu atau istiqomah adalah merupakan suatu yang harus dilaksanakan oleh para guru dan steakholder yang ada di sekolah atau madrasah. Sebuah progaram yang hebat dalam pembentukan karakter perserta didik, tapi pelaksanaannya tidak terevaluasi dan tidak istiqomah akan gagal dan mandek di tengah jalan. Akan tetapi program pembentukan karakter peserta didik yang sederhana, namun dijalankan dengan rutin dan telaten, maka akan dapat dirasakan hasilnya.

Banyak cara sederhana yang dapat ditempuh dan dilaksanakan oleh para guru di sekolah dan madrasah secara rutin setiap hari  dalam membentuk karakter peserta didik. Setiap pagi sebelum jam pertama dimulai dilantunkan ayat-ayat pendek atau ayat-ayat suci Alquran, guru berdiri di depan kelas dan menyalami peserta didik yang hadir, perserta didik bersalaman kepada guru sambil memberi hormat dan tadhim dengan mencium tangan guru. Sebelum memulai belajar mengajar peserta didik diajak berdoa bersama dengan membaca doa asmaul husna, dilanjut tahlil setiap hari Jumat. Selamat mencoba. (*/aro)