Polda Bongkar Gudang Pestisida Ilegal

1172
AMANKAN BARANG BUKTI : Petugas kepolisian dari Ditreskrimsus Polda Jateng membongkar gudang pembuatan pestisida illegal di Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen, kemarin (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
AMANKAN BARANG BUKTI : Petugas kepolisian dari Ditreskrimsus Polda Jateng membongkar gudang pembuatan pestisida illegal di Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen, kemarin (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

DEMAK-Petugas kepolisian dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng, Rabu (25/9) kemarin, membongkar gudang yang diduga menjadi pusat pembuatan obat pestisida illegal. Lokasinya berada di Jalan Kembangarum, RT 8 RW 5, Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen.

Dalam operasi ini, petugas berhasil mengamankan sebanyak 1.896 botol pestisida pembasmi rumput atau herbisida. Botol botol pestisida bermerek bravoxone, kresna up dan posat tersebut sudah siap diedarkan ke pasaran. Selain herbisida, polisi juga menyita 182 jerigen pestisida ukuran 5 liter dan 20 liter. Kemudian, barang bukti (BB) berupa bahan baku 45 drum pestisida kresna, 36 drum bravoxone dan 36 drum posat. Setiap drum berisi 200 liter pestisida.

Direktur Reskrimsus Polda Jateng, Kombespol Lukas Akbar Abriari mengatakan, pestisida yang diproduksi dan dipasarkan toko Arum Tani milik inisial SP tersebut diduga belum mempunyai izin dan belum terdaftar dari Kementerian Pertanian RI. Selain itu, belum ada label kemasan secara resmi.

Dia menambahkan, operasi terhadap pestisida illegal ini menindaklanjuti informasi dari masyarakat terkait maraknya peredaran pestisida illegal di wilayah Kecamatan Mranggen dan sekitarnya. Karena itu, petugas kemudian melakukan penyelidikan dan pengembangan untuk mengungkap kasus tersebut. Akhirnya, diketahui bahwa obat pestisida illegal ini diduga berasal dari toko tersebut. “Pestisida ini belum ada izin edar dari Kementerian Pertanian,” ujarnya.

Kasubdit Indigasi Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Egy Andrian Suez mengatakan bahwa selain tidak terdaftar, produk pestisida tersebut juga tidak berlabel dan tidak memenuhi syarat standar mutu edar. “Usaha pembuatan pestisida illegal ini sudah berlangsung sejak 1998 serta terus berkembang pesat pada 2001 hingga sekarang,” jelasnya.

Produk pestisida antara lain diedarkan di wilayah Demak, Grobogan, Kabupaten Semarang, Kendal, Kota Semarang dan sekitarnya. Keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp 300 juta setiap bulan. Terkait dengan kasus ini, pemilik toko, SP, dinilai telah melanggar pasal 60 UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman dengan ancaman pidana 5 tahun penjara serta denda Rp 250 juta. Selain itu, melanggar UU Nomor 8 Tahun 1999 terkait perlindungan konsumen dengan ancaman pidana 5 tahun serta denda Rp 2 miliar. (hib/ida)