Teladani Nilai Luhur Diponegoro

1705
TELADANI DIPONEGORO : Mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro saat membedah Babad Diponegoro di hall SA-MWA Undip Tembalang (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TELADANI DIPONEGORO : Mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro saat membedah Babad Diponegoro di hall SA-MWA Undip Tembalang (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Suasana tampak hening dan magis ketika para penembang melantunkan tembang-tembang macapat. Meski telah mengukuhkan diri sebagai perguruan tingi yang mengedepankan riset untuk rakyat, tidak lantas membuat Undip melupakan akar budaya dan nilai luhur yang melekat pada sosok Pangeran Diponegoro.

Kegiatan yang menyajikan cuplikan tembang-tembang macapat dan menggambarkan fragmen riwayat hidup Sang Pangeran tersebut materinya bersumber dari naskah otobiografi Babad Diponegoro yang ditulis selama dalam pengasingan di Manado.

“Saya berharap semua civitas akademika Undip, harus menjaga dan meneladani sikap-sikap luhur Pangeran Diponegoro, yang pada muaranya nanti mampu menjaga kebhinekaan dan Pancasila,” ungkap Rektor Undip Prof Yos Johan Utama dalam pembukaan Gelar Macapatan dan Bedah Babad Diponegoro, Kamis (26/10) malam di hall SA-MWA Undip Tembalang.

Acara ini menjadi bagian Dies Natalis Undip ke 60 yang dimaksudkan untuk mengenang, menghormati, dm meneladani nilai-nilai perjuangan serta kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Para penembang selain para profesor, dosen dan melibatkan mahasiswa Undip, turut hadir pula Sekda Jateng Sri Puryono yang dengan khidmat melantunkan bait-bait cuplikan tembang-tembang macapat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan bedah naskah otobiografi Babad Diponegoro yang dipandu oleh dosen Fakultas Ilmu Budaya Dhanang Respati Puguh. “Yang paling penting kita harus mewariskan nilai-nilai luhur dan agung dari Sang pangeran dalam pendidikan karakter anak bangsa,” tandas mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1993-1998, Wardiman Djojonegoro.

Wardiman sangat prihatin karena banyak buku-buku sejarah kepahlawanan Diponegoro yang diajarkan di sekolah banyak yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab mengacu pada sumber tidak benar yang ditulis oleh penjajah saat itu. Oleh karenanya dia sangat antusias menyambut kegiatan tembang macapat ini sebagai salah satu upaya untuk meluruskan isi sejarah. (tsa/ric)