Cara Menguatkan Pendidikan Karakter

3328
Oleh: Siti Khodijatus Sholihah SpdI
Oleh: Siti Khodijatus Sholihah SpdI

PENGUATAN pendidikan karakter (PPK) di sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 sepertinya merupakan prioritas yang harus mendapatkan perhatian yang cukup besar guna memperbaiki moral bangsa Indonesia. Penguatan pendidikan karakter ini seolah-olah menjadi perbincangan asyik yang sulit untuk dihentikan. Setiap ada kesempatan, pendidikan karakter selalu menjadi topik utama.

Dengan adanya penguatan pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah, diharapkan moral anak bangsa kembali seperti sedia kala. Pendidikan karakter banyak digembor-gemborkan, namun praktiknya pendidikan karakter belum terealisasi secara sempurna dalam kehidupan nyata.

Dalam Kamus Besar  Bahasa  Indonesia (KBBI), kata karakter mempunyai arti tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan  yang lain, dan watak. Jadi orang yang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat,  bertabiat,  atau berwatak.

Pengertian karakter di atas sama dengan pengertian akhlak dalam pandangan Islam. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ghazali, bahwa akhlak dimaknai sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa yang melahirkan berbagai macam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dengan demikian, akhlak yang selanjutnya penulis sebut dengan istilah karakter adalah sifat yang muncul dari jiwa seseorang untuk melakukan perbuatan secara tidak sadar dan tanpa pertimbangan terlebih dahulu.

Karakter bisa terbentuk melalui lingkungan, misalnya lingkungan keluarga pada masa kecil ataupun bawaan dari lahir. Ada yang berpendapat, baik dan buruknya karakter manusia memanglah bawaan dari lahir. Jika jiwa bawaannya baik, maka manusia itu akan berkarakter baik. Tetapi pendapat itu bisa saja salah. Jika itu benar, maka pendidikan karakter tidak ada gunanya, karena tidak akan mungkin merubah karakter orang. Sementara itu, ada juga yang berpendapat karakter itu bisa dibentuk dan diupayakan. Dalam pendapat ini mengandung makna bahwa pendidikan karakter sangat berguna untuk merubah manusia menjadi manusia yang berkarakter baik.

Lima Karakter

Berdasarkan pendapat yang kedua inilah, penulis berasumsi bahwa penguatan pendidikan karakter di sekolah menjadi komponen yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian dari semua stakeholder pendidikan. Ada lima karakter yang ingin dikuatkan melalui penerapan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah, yaitu, religius, nasionalis, gotong royong, integritas, dan mandiri.

Untuk bisa menguatkan karakter religius tersebut, siswa dibiasakan untuk melakukan beberapa perbuatan, antara lain, pertama, mengucapkan salam “Assalamu‘alaikum warahmatullaāhi wabarakātuh,” setiap kali bertemu dengan Bapak/Ibu guru/pegawai di sekolah maupun teman-temannya. Kedua, siswa juga dibiasakan berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan sebuah kegiatan, misalnya kegiatan pembelajaran. Sebelum belajar, minimal membaca surah Alfatihah dan doa sebelum belajar. Setelah belajar, minimal membaca bacaan hamdalah, “Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin”.

Ketiga, siswa dibiasakan menjalankan shalat zuhur dan shalat asar berjamaah. Selain itu, siswa juga dibiasakan untuk bertadarus Alquran sebelum asar, yakni ketika kegiatan pembelajaran telah usai. Keempat, siswa dimotivasi agar selalu bersyukur dalam keadaan apapun dengan sering memberikan kisah berhikmah yang berhubungan dengan syukur nikmat. Dan kelima, siswa dibiasakan juga untuk mengembangkan sikap toleransi beragama di lingkungan sekolah.

Adapaun karakter yang berhubungan dengan nasionalisme bisa dikuatkan dengan pembiasaan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, serta lagu-lagu wajib/nasional sebelum pulang. Hal ini dilakukan untuk menguatkan rasa cinta tanah air, karena walau bagaimana pun ”hubbul wathon minal iman”, cinta tanah air itu sebagian dari iman.

Selanjutnya penguatan karakter integritas, gotong royong, dan mandiri, bisa dilakukan dengan sering melaksanakan pembelajaran yang melibatkan kegiatan kelompok. Dengan sering berinteraksi dalam kegiatan kelompok yang terbimbing dan terawasi, maka sikap-sikap sosial yang diharapkan di atas semakin melekat kuat pada pribadi masing-masing siswa. Di sinilah kreativitas para guru dituntut, kreativitas untuk merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang bisa menumbuhkan semangat kejujuran, kerja sama atau gotong royong dalam hal yang positif, serta memupuk jiwa anak agar semakin mandiri.

Pada akhirnya, penguatan penguatan karakter pada kurikulum 2013 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti akan dikembalikan pada kebijakan sekolah yang melaksanakan kurikulum 2013 dan kreatifitas guru mapel PAI dan BP dalam mengemas pembelajaran yang dilaksanakannya agar bisa semakin menguatkan karakter religius, nasionalis, gotong royong, integritas, dan mandiri sebagaimana yang diamanatkan oleh pembuat kebijakan kurikulum 2013. Semoga! (*/aro)