Gagasan Pendidikan Multikulturalisme di Sekolah

2153
Oleh: Sukismi, S.Pd.
Oleh: Sukismi, S.Pd.

KONFLIK Akibat kebhinekaan yang dimiliki oleh negara kita akhir-akhir menjadi isu yang hangat diperbincangkan. Perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) menjadi alat yang digunakan oleh segelintir orang untuk saling menyerang satu sama lain. Hal ini mungkin sebagai reaksi dari tidak siapnya kita dengan konsep multikultural di negara kita.

Kesadaran tentang multikultural yang mengakui keberagaman atau kebhinekaan sebenarnya telahmuncul sejak negara tercinta kita Republik Indonesia terbentuk. Akan tetapi bagi Bangsa Indonesia saat ini, multikultural merupakan sebuah konsep yang baru dan asing. Menelisik kebelakang di zaman Orde Baru, meskipun mengakui kebhinekaan akan tetapi pada dasarnya menginginkan keseragaman.

Kesadaran masyarakat tentang kebhinekaan dipaksa untuk dipendam dengan atas nama menjaga persatuan dan stabilitas Negara. Pada masa tersebut kemudian muncul paham monokulturalisme yang menekankan dan memaksakan pola penyeragaman dalam berbagai aspek kehidupan baik politik, ekonomi sistem sosial budaya dan lain sebagainya. Karena terpolarisasi dari awal dengan keseragaman akhirnya kita tidak siap dengan perbedaan yang ada dalam masyarakat. Wawasan multikulturalisme bangsa Indonesia sangat rendah. Sehingga berakibat masyarakat kita sangat mudah terhasut dengan isu-isu SARA.

Menurut Lickona (1992), ada sepuluh tanda dari perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa, yaitumeningkatnya kekerasan di kalangan remaja, ketidakjujuran yang membudaya, semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orangtua, guru dan pemimpin, kemudianpengaruh peergroup terhadap tindak kekerasan, meningkatnya kecurigaan dan kebencian, penggunaan bahasa yang memburuk, penurunan etos kerja, menurunnya rasa tanggung jawab sosial individu dan warga negara, meningginya perilaku merusak diri, semakin hilangnya pedoman moral.

Hampir semua dari sepuluh hal yang mencirikan tanda-tanda kehancuran suatu bangsa yang dikemukakan oleh Lickona telah terjadi di Indonesia. Misalnya banyaknya geng motor dikalangan remaja yang berakibat pada tindak kekerasan dan perkelahian. Semakin banyaknya pelaku korupsi yang menunjukkan semakin membudayanya ketidakjujuran. Banyaknya tindak kekerasan dan perlakukan tidak hormat yang dilakukan oleh siswa kepada gurunya, anak yang tega memperkosa ibu kandungnya dan membunuh orang tuanya sendiri dan lainnya.

Pendidikan multikultural dirancang dengan maksud yang pertamaadalah untuk memfungsikan peranan sekolah dalam memandang keberadaan peserta didik yang beraneka ragam.Yang keduauntuk membantu peserta didik dalam membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan kultural, ras, etnis, kelompok keagamaan.Ketiga memberikan ketahanan peserta didik dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya. Yang terakhir untuk membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok.

Oleh karena itu, perlu kiranya dibangun kesadaran tentang multikultural pada masayarakat kita agar tidak mudah terpecah belah akibat perbedaan yang ada. Ideologi multikultural perlu ditanamkan sejak dini pada anak-anak kita sehingga karakter kebangsaan yang dimiliki oleh generasi penerus kita kuat.Hal ini dikarenakan banyak sekali hal-hal baru yang terus muncul dari budaya masyarakat yang senantiasa berkembang, sehingga pendidikan multikultural tidak bisa dihentikan begitu saja pada tahap tertentu melainkan harus terus-menerus dikembangkan dan diresapi oleh masyarakat dalam kehidupannya.Pendidikan multikultural hendaknya tidak hanya diajarkan di dalam lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan perguruan tinggi, namun juga diajarkan di dalam pendidikan informal maupun nonformal.

Pada awalnya, pendidikan multikultural dimulai dari keluarga sebagai pendidikan informal. Keluarga, khususnya orang tua harus mengajarkan dan  menanamkan sikap terbuka, saling mengargai, menghormati, dan peduli pada anaknya.  Pendidikan multikultural kemudian diteruskan di dunia pendidikan formal maupun nonformal, dan terus diiringi dengan pendidikan informal. Karena indikator akan terjadinya perpecahan pada bangsa kita secara transparan sudah bisa kita baca. Dengan kesadaran multukiltural diharapkan mampu mengurangi konflik-konflik dan tanda-tanda kehancuran bangsa tersebut.

Akan tetapi Membangun kesadaran tentang multikultural bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kerja keras dan tekad yang kuat untuk mampu mewujudkannya. Salah satu solusinya adalah dengan menghadirkan multikulturalisme disekolah melalui pendidikan multikultural. Dengan pendidikan multikultural disekolah diharapkan kakakter kebangsaan siswa bisa terbangun sejak dini. Minimal mampu membangun kesadaran akan pentingya sikap saling toleran, menghormati perbedaan suku, agama, ras etnis dan budaya masyarakat Indonesia yang multikultural.

Alhasil pendidikan multikultural adalah, pendidikan yang membuat dan menciptakan situasi sekolah dan kegiatannya sehingga semua siswa dari berbagai suku, ras, budaya, dan keadaan mendapat kesempatan belajar dengan baik. Sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk mempelajari berbagai mata pelajaran, namun sekaligus menjadi tempat untuk menumbuhkan sikap terbuka terhadap keragaman budaya dalam proses pembelajarannya. Prinsip multikulturalisme adalah membangun dirinya, bangsa dan tanah air tanpa merasakan sebagai beban dan hambatan yang didasarkan pada ikatan persatuan, kesatuan dan kebersamaan serta saling bekerja sama dalam membangun indonesia maju dan sejahtera. (*/bas)