Video Sandiwara, Tingkatkan Minat Belajar

605
Oleh: Sri Mujiati, S.Pd
Oleh: Sri Mujiati, S.Pd

ANDIWARA Pernah berjaya di zamannya. Bahkan sandiwara radio kala itu menjadi hiburan masyarakat yang menarik sebelum media audio visual hadir. Seiring dengan perkembangan zaman, sandiwara radio seakan mulai ditinggalkan. Kini, kita banyak yang menyukai tontonan audio visual.

Kondisi serupa terjadi di dalam pembelajaran bahasa Jawa kelas IX semester gasal kompetensi dasar (KD) sandiwara berbahasa Jawa. Siswa mengalami kesulitan ketika mengikuti pembelajaran. Cara dan metode guru masih konvensional, bahkan cenderung teacher centre (terpusat di guru). Untuk mengatasi hal tersebut, penulis mencoba melakukan inovasi pembelajaran sandiwara berbahasa Jawa dengan pendekatan proyek.

Untuk melaksanakan metode tersebut, pertama guru menyusun rencana pembelajaran (RPP) dengan materi terkait. Kemudian guru melakukan apersepsi, dengan menampilkan video sandiwara yang sudah ada. Umumnya diambil dari internet atau rekaman guru. Setelah itu, siswa kemudian dibentuk kelompok-kelompok dengan anggota 4–6 siswa per kelompok. Yang tak kalah pentingya, guru juga menyampaikan teknik dan piranti editing video kepada siswa. Untuk memproduksi sebuah video sandiwara berbahasa Jawa, guru juga melatih dasar-dasar editing video sederhana menggunakan aplikasi tertentu.

Biasanya aplikasi yang penulis gunakan, antara lain viva video di play store dan movie maker. Langkah selanjutnya, siswa secara berkelompok, mengapresiasi tampilan video sandiwara yang dijadikan apersepsi. Guru memfasilitasi analisis siswa tersebut. Proses tanya jawab terjadi pada tahap ini.

Langkah selanjutnya, siswa berdiskusi untuk menentukan topik sandiwara yang akan dikerjakannya. Masing-masing memiliki topik yang berbeda. Guru memantau proses diskusi siswa, dengan mencatat hal-hal penting selama diskusi. Setelah masing-masing kelompok siap dengan topic, langkah berikutnya, siswa menyusun skenario video.

Jika ini dikerjakan selama dua jam pelajaran, jelas tidak mungkin selesai. Alasannya siswa membutuhkan alat perekam gambar dan lokasi yang berbeda, bergantung topik yang ditulisnya. Maka, siswa diberi kesempatan mengambil gambar sandiwara di luar jam pelajaran.

Pada pertemuan berikutnya, kelompok siswa berdiskusi dan melakukan preview terhadap hasil editingya. Bahkan juga melakukan analisis konten dari sisi dialog, teknik bicara, editing, dan sebagainya. Untuk diksi yang digunakan pada adegan-adegan tersebut, guru bisa masuk ke dalam diskusi siswa, untuk membantu kesulitan siswa.

Masing-masing kelompok menampilkan karyanya di slide. Tahap ini masih pada tahap preview karya. Langkah selanjutnya yaitu editing akhir video. Guru menekankan pentingnya editing supaya bisa dihasilkan produk video berbahasa Jawa yang baik.

Pada tahap tampilan karya video sandiwara, tampak masing-masing kelompok berantusias melihatnya. Banyak komentar yang dilontarkan siswa terkait isi, tampilan, dan hasil dialog tokoh di dalam video tersebut. Saat itulah, guru hadir untuk memberikan penguatan-penguatan pembelajaran sandiwara berbahasa Jawa. Penguatan-penguatan dari guru dan teman sejawat, dicatat lalu didiskusikan kembali. Guru bisa mengarahkan siswa lebih ke isi video, bentuk dialog, sikap tubuh tokoh ketika dialog, ragam bahasa, dan unsur intrinsic sandiwara.

Melalui produksi video sandiwara, guru menghadirkan media baru. Sebab jika siswa dipaksa menghafal naskah sandiwara, kamudian tampil di panggung ada kendala tersendiri. Siswa merasa malu dan kurang percaya diri ketika di panggung. Maka, melalui media pembuatan video sandiwara berbahasa Jawa pada siswa kelas 9, dapat disimpulkan  bahwa siswa lebih tertarik untuk belajar sandiwara. Mereka merasa bebas mengembangkan ide dan topik. Guru memberikan kebebasan berpikir dan kreasi kepada siswa. Sehingga pembelajaran bahasa Jawa kelas 9 materi sandiwara bisa memenuhi target pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum.

Selanjutnya guru juga perlu mengukur keberhasilan melalui indikator soal, dan bentuk evaluasi tulis dan lisan. Sekali lagi, hal itu dilakukan untuk menguatkan ke-efektifan metode tersebut di dalam pembelajaran bahasa Jawa. Ini yang sebenarnya menjadi ruh kurikulum dengan berbagai varian indikator dan metode yang digunakan oleh guru. (*/bas)