Ingin Borobudur Marathon Setara Tokyo Marathon

1069
Liem Chie An. (Istimewa)
Liem Chie An. (Istimewa)

MAGELANG – Borobudur Marathon akan kembali digelar Minggu (19/11) mendatang, di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Sebanyak 10 ribu pelari akan mengikuti event tahunan berkels internasional ini. Tahun ini, penyelenggaraan Borobudur Marathon menekankan pada kualitas, bukan lagi pada kuantitas.

Penggagas Borobudur Marathon, Liem Chie An, menaruh harapan besar pada penyelenggaraan Borobudur Marathon ke depan. Pengusaha asli Magelang ini punya impian, Borobudur Marathon akan setara dengan Tokyo Marathon.

“Di Tokyo Marathon, kuota pelari dibatasi sebanyak 30 ribu orang. Tapi pendaftaranya ratusan ribu pelari. Selanjutnya dilakukan undian untuk menentukan pelari yang berhak mengikuti Tokyo Marathon. Jadi antusiasmenya luar biasa, impian saya Borobudur Marathon akan seperti itu nantinya,” tandasnya.

Karena itu, Liem Chie An yang juga Ketua Yayasan Borobudur Marathon ini akan melakukan evaluasi dan pembenahan kualitas pada setiap penyelenggaraanya. Tahun lalu, pihak yayasan mengakui ada yang salah dalam penyelenggaraannya. Di mana jumlah peserta digenjot hingga hampir 20 ribu peserta, namun akhirnya kualitas terabaikan. “Kami tidak mau ada pengerahan massa. Peserta Borobudur Marathon seharusnya adalah atlet, pelari atau setidaknya dari komunitas-komunitas pecinta olahraga lari. Bukan semua orang disuruh ikut, bahkan gratis hanya untuk mengejar jumlah peserta. Kalau seperti itu nanti kualitas Borobudur Marathon akan terus turun. Saya tidak ingin Borobudur Marathon jadi event murahan,” tegas Chie An.

Tahun ini pihak yayasan mewanti-wanti pada penyelenggara, untuk mengesampingkan kuantitas tapi harus ada peningkatan kualitas, agar penyelenggaraan Borobudur Marathon menjadi perhatian para pelari nasional maupun internasional dan menjadi event yang wajib diikuti setiap tahun.

Dari hasil evaluasi sementara menjelang pelaksanaan yang tinggal menghitung hari, Chie An cukup mengapresiasi penyelenggara. Menurutnya, ada peningkatan kualitas dari sisi kepesertaan. “Sampai hari ini sudah sekitar 8 ribu pendaftar dari target 10 ribu pelari. Dari jumlah tersebut 60 persen adalah pelari dari luar Jawa Tengah. Ini bagus, berarti Borobudur Marathon sudah dikenal luas,” paparnya..

Selain itu panitia juga menyeleksi pelari, di antaranya dari katagori pelajar. Tahun ini, hanya pelajar yang memang atlet lari yang bisa ikut serta. “Memang banyak protes, tapi itu konsekuensi. Yang penting kualitas event ini meningkat,” jelasnya.

Liem Chie An mengatakan, ide penyelenggaraan Borobudur Marathon tercetus pada tahun 2012. Saat ini, dia menyelenggaraakan event Borobudur International Hash, yang diikuti oleh para hasher dari seluruh dunia yang membuat Magelang serta candi Borobudur semarak. Namun, setelah event rampung Magelang kembali sepi.

Saat itulah, Chie An bersama Mayor Jenderal (Purn) Kardiono serta Budi Santoso dan Prasetyo Aribowo yang saat itu menjabat Kadinpora dan Kadinbupar Jateng menggagas event lari internasional Borobudur Marathon. Event tersebut sebelumnya sudah ada pada era 90-an, namun bertahun-tahun vakum. Maka tahun 2013 Borobudur Marathon kembali dihidupkan, dan terus dilangsungkan setiap tahun hingga sekarang. Dalam setiap penyelanggaraan Borobudur Marathon, Magelang selalu ramai dengan pelancong. Ribuan pelari nasional dan internasional juga tampil.

Dari sisi finansial diakui memang tidak menguntungkan. Pada tahun 2013 dan 2014, penyelenggaraan rugi ratusan juta rupiah. Namun 2015 untung Rp 200 juta, dan tahun lalu kembali rugi. “Tapi tidak masalah, karena misi kami memang bukan cari untung. Kalau cari duit bukan dari sini, Borobudur Marathon itu misi sosial untuk menghidupkan Magelang, Jawa Tengah dan NKRI,” ungkapnya. (ric)