Banjir Kanal Timur Meluap

Ratusan Rumah di Sawah Besar dan Kaligawe Terendam

964
BANJIR LAGI: Perumahan Dinar Indah, Meteseh, Tembalang yang terendam banjir, kemarin. (bawah kiri) Warga mengungsi di tempat yang tinggi. (bawah kanan) Banjir yang melanda Kampung Karang Kimpul, Kaligawe. (AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANJIR LAGI: Perumahan Dinar Indah, Meteseh, Tembalang yang terendam banjir, kemarin. (bawah kiri) Warga mengungsi di tempat yang tinggi. (bawah kanan) Banjir yang melanda Kampung Karang Kimpul, Kaligawe. (AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG- Hujan yang mengguyur Kota Semarang sejak siang hingga malam kemarin mengakibatkan Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) meluap. Derasnya air meluber hingga masuk ke permukiman warga di wilayah Kaligawe dan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, Kamis (16/11) tadi malam.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lapangan, akibat luapan Sungai BKT tersebut sejumlah warga melakukan antisipasi penutupan jalan dan meminta pengendara sepeda motor yang hendak melintas di Jalan Sawah Besar untuk mencari jalan lain.

Budi, 40, warga Karang Kimpul RT 2 RW 1, Kelurahan Kaligawe, Kecamatan Gayamsari yang rumahnya tergenang mengatakan, Sungai BKT meluap sejak sekitar pukul 17.00. Saat itu, ia hendak menjemput anaknya sekolah di kawasan Gayamsari dan melintas di Jalan Sawah Besar.

“Tadi sekitar pukul 17.00 itu saya lewat belum deras luapannya, tapi setelah itu saya mau lewat (menuju ke rumah) lagi, kok airnya sudah tinggi dan deras alirannya. Saya nggak berani, akhirnya mutar lewat Citarum,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG
ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG

Budi mengatakan, Sungai BKT meluap diduga karena hujan deras melanda kawasan Ungaran. Selain itu, sedimentasi Sungai BKT yang sudah tinggi, juga menjadi penyebabnya.

“Sisi selatan jembatan ini memang sudah sering dikeruk. Tapi mungkin karena sedimentasinya yang tinggi, jadi meluap. Itu airnya keruh membawa lumpur,” katanya.

Luapan Sungai BKT ini, lanjut Budi, merendam sejumlah kawasan, di antaranya wilayah Kelurahan Kaligawe, Sawah Besar, Jalan Cimanuk VII Mlatiharjo dan Karang Tempel khususnya di kawasan Jalan Barito. Selain itu, banjir Sungai BKT juga meluber ke wilayah Kelurahan Tambakrejo, Gayamsari.

“Kalau ada yang bilang tanggul Sungai BKT jebol itu salah. Ini nggak jebol, tapi meluap. Tapi luapan kali ini lebih parah dari yang sebelumnya, karena alirannya sangat deras,” bebernya.

Kondisi terparah yang terkena dampak luapan Sungai BKT ini, menurut Budi, dirasakan warga perkampungan Sawah Besar dan Tambak Dalem. Ketinggian air bervariasi. Di Jalan Sawah Besar, tingginya di atas mata kaki orang dewasa. Sedangkan di perkampungan bisa mencapai betis orang dewasa.

Tingginya banjir ini menyebabkan sejumlah kendaraan roda dua yang nekat menerobos banjir mengalami mogok lantaran mesin kemasukan air. Agar tak menimbulkan banyak korban, warga berinisitif memasang pembatas kayu agar pengendara motor menghindari Jalan Sawah Besar.

Karlina Dewi, warga Sawah Besar, mengatakan, banjir akibat meluapnya Sungai Banjir Kanal Timur sangat parah. Luapan banjir mengalir deras di sepanjang tanggul Sawah Besar. “Semoga pemerintah cepat melakukan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur,” harapnya.

Warga lain, Reza Andirisani, berharap dinas terkait segera mengeruk endapan di Sungai BKT. “Sungai BKT itu sebenarnya luas, tapi endapannya juga tinggi. Jadinya, nggak bisa menampung luapan banjir dari atas (Ungaran),” katanya.

Sementara itu, banjir kemarin juga merendam Perumahan Dinar Indah RT 6 RW 26, Kelurahan Meteseh, Tembalang. Banjir di perumahan ini akibat meluapnya Sungai Pengkol. Ketinggian air mencapai 50 sentimeter. Praktis, sejumlah warga kemarin mengungsi di tempat yang tinggi, salah satunya di Masjid Ar Rahmah.

AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG
AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG

Ketua RW 26, Winarno, mengakui perumahan yang dihuni saat ini kerap dilanda banjir. Karena itu, pihaknya meminta kepada pengembang untuk merelokasi warga ke lahan yang lokasinya bebas banjir. “Kalau hujannya di Semarang tidak masalah, tetapi kalau hujannya dari wilayah Ungaran, pasti di sini kebanjiran,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan meminta bantuan kepada Pemkot Semarang untuk dibangunkan talud penyangga. “Selama ini talud yang sudah ada kondisinya sudah bocor dan rembes, sehingga airnya masuk ke perkampungan dan halaman rumah warga,” keluhnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga meminta kepada pemkot untuk melakukan pengerukan Sungai Pengkol, karena kondisi saat ini sudah banyak endapan sedimentasi.

Winarno mengatakan, jumlah warga yang menempati perumahan itu 44 KK, tetapi karena sering banjir, kini banyak warga yang memilih pindah. “Sekarang tinggal 32 KK. Setiap minggu sekali rumah didatangi pemiliknya. Mereka ada yang kontrak, dan ada yang tinggal di rumah saudaranya,” paparnya.

Salah seorang warga, Rina, mengaku terpaksa mengungsi di tempat yang lebih tinggi, karena rumahnya sudah terendam banjir. Ia khawatir air akan terus naik, sehingga memiluh mengungsi. “Kalau airnya tetap tinggi, lebih baik saya mengungsi ke masjid.  Nanti kalau airnya sudah surut, akan kembali ke rumah,” katanya.

Lurah Meteseh, Waluyo Joko Iriyanto, mengatakan Perumahan Dinar Indah belum diserahterimakan kepada Pemkot Semarang. Sehingga masih menjadi tanggungjawab pengembang. “Tetapi, kami akan berusaha untuk membantu dan menyampaikan permasalahan ini agar ditindaklanjuti oleh pemkot,” katanya saat mengunjungi lokasi banjir, kemarin.(tsa/hid/aro)