Deny Ikut Bantu Aniaya saja Dihukum 7 Tahun

764

VONIS 6 bulan penjara yang dijatuhkan majelis hakim PN Semarang kepada 9 terdakwa taruna tingkat III Akpol Semarang dinilai ‘super ringan.’ Koran ini mencoba membandingkan dengan kasus yang dialami Mushonef, yang hanya karena mencuri handphone Smartfren type E2 seharga sekitar Rp 500 ribu, oleh majelis hakim PN Semarang dipidana 10 bulan penjara.

Contoh lain, tiga terpidana pelaku penganiayaan yang menyebabkan seorang penjaga lapak ponsel di Semarang, Hilarius Diva, 21, tewas. Oleh hakim PN Semarang, pelaku utama penganiayaan, yakni Dewa Pradana, divonis 12 tahun penjara. Sedangkan dua rekannya yang ikut membantu, yakni Deny Ardiansah dan Muhammad Badawi Alwi masing-masing dihukum 7 dan 6 tahun penjara.

“Kasus penganiayaan terhadap Hilarius Diva hingga tewas ini hampir sama dengan kasus Akpol. Kalau ndak salah itu kasus Oktober 2014 lalu ya,”kata Koordinator Komunitas Peduli Hukum (KPH) Semarang, Mardha FY, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (17/11).

 Menurutnya, putusan yang dijatuhkan majelis hakim PN Semarang terhadap sembilan taruna Akpol tersebut sangat ironi.  Terlebih lagi, selama persidangan, para terdakwa dapat “tiket istimewa” dengan hanya ditahan di ruang tahanan Mapolda Jateng.  Berbeda dengan terdakwa lainnya, yang biasanya langsung dijebloskan ke dalam sel Lapas Kedungpane, Semarang.

Meski demikian, ia tidak ingin berandai-andai lebih jauh. Menurutnya, seluruh putusan tersebut adalah kewenangan majelis hakim. Pihaknya tetap mendukung upaya penegakan hukum yang dilakukan jaksa maupun kepolisian.

“Penuh teka-tekinya dulu awal dakwaan sampai 2 kali ditunda. Pembacaan putusan 1 kali ditunda. Di pengadilan pun, pimpinan Kajari maupun  Kapolrestabes sempat hadir dan tidak hanya sekali, di media massa awalnya sempat ramai,”katanya heran. (tim)