Minta Pemerintah Terapkan Screening Thalassemia

Sosialisasi POPTI tentang Penyakit Thalassemia pada Masyarakat

870
CEGAH THALASSEMIA : Pengurus sekaligus pembina POPTI Kota Magelang, dr Woro T Wulansari SpA saat sosialisasi aku tahu thalassemia bersama Astra Daihatsu di SMKN 2 Kota Magelang. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
CEGAH THALASSEMIA : Pengurus sekaligus pembina POPTI Kota Magelang, dr Woro T Wulansari SpA saat sosialisasi aku tahu thalassemia bersama Astra Daihatsu di SMKN 2 Kota Magelang. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

Tingginya penderita thalassemia di Indonesia yang menyumbang hampir 1,5 persen penderita di seluruh dunia, membuat Perhimpunan Orangtua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Kota Magelang meminta pemerintah menerapkan kebijakan khusus untuk memutus rantai penyakit ini.

PENDERITA thalassemia terus mengalami kenaikan cukup tinggi dan dimungkinkan merupakan fenomena puncak gunung es. Pengurus POPTI Kota Magelang, dr Woro T Wulansari SpA, seusai acara sosialisasi, Jumat (17/11) kemarin mengatakan hingga kini penderita thalassemia di wilayah eks Karesidenan Kedu mencapai 150 orang. Sementara, penderita di Indonesia menyumbang sekitar 1,5 persen dari total penderita di seluruh dunia.

“Jumlah itu terbilang tinggi. Maka, kami berharap pemerintah juga memiliki kebijakan dalam upaya mencegah bertambahnya penderita. Salah satunya mewajibkan para calon yang akan menikah untuk melakukan screening penyakit ini terlebih dahulu,” kata dokter Woro.

Dokter spesialis anak di RSUD Tidar ini menjelaskan, thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diakibatkan faktor genetika dan menyebabkan protein di sel darah merah tidak berfungsi normal. Penderita, menurut Woro, bisa meninggal jika tidak tertangani dengan baik. Penyakit thalassemia, lanjut dia, hingga kini belum ada obatnya dan hanya ada upaya mempertahankan hidup dengan melakukan transfusi darah rutin setiap beberapa bulan sekali.

“Selain dengan transfusi, penderita juga diwajibkan mengonsumsi secara rutin obat kelasi besi atau pengikat zat besi hingga seumur hidupnya. Jadi memang, penderita thalassemia sangat rawan dengan depresi dan juga kematian,” paparnya.

Woro menyebutkan, sebelum dirinya menangani thalassemia di RSUD Kota Magelang, telah mendengar bahwa ada 3 pasien thalassemia di eks Karesidenan Kedu yang meninggal. Dia memberikan solusi upaya pencegahan perkembangan penyakit thalassemia dengan cara screening. Screening, lanjutnya, adalah proses untuk mengidentifikasi penyakit-penyakit yang tidak diketahui dengan menggunakan berbagai uji yang dapat diterapkan secara tepat dalam sebuah skala yang benar

“Sejauh ini upaya pencegahan agar tidak berkembang adalah dengan cara screening pembawa sifat. Selanjutnya orang yang normal sebaiknya tidak menikah dengan orang yang membawa sifat penyakit ini agar ke depan anak yang dilahirkannya tidak terkena,” beber Woro.

Woro memaparkan, orang tua yang memiliki sifat atau menderita penyakit ini dapat dipastikan keturunannya juga akan mengidap penyakit yang sama. Ironisnya, menurut Woro, masih banyak masyarakat yang belum memahami hal ini, sehingga perlu disosialisasikan.

“Untuk itu kami menyarankan bagi pasangan yang akan menikah sebaiknya melakukan screening penyakit ini. Kalau ternyata hasil pemeriksaan salah satu calon membawa sifat ini sebaiknya tidak melanjutkan pernikahan. Sebelum ada keputusan, kami arahkan konseling agar satu sama lain saling mengerti,” imbuhnya.

Ketua POPTI Kota Magelang terpilih, Lilis Erawati Dewi, 37, mengungkapkan bahwa rantai penyakit ini memang harus diputus. Upaya screening menurut Lilis, langkah yang tepat agar dapat mencegah bertambahnya jumlah penderita.

Lilis yang berasal dari Bandung dan telah puluhan tahun tinggal di Kota Magelang ini mengakui bahwa dirinya juga mempunyai anak yang menderita thalassemia. Anaknya, menurut Lilis, terdeteksi menderita thalassemia sejak berusia 8 bulan hingga kini berusia 16 tahun. Bahkan anaknya, lanjutnya, telah menjalani operasi pengangkatan limpa 6 bulan yang lalu karena limpanya membesar.

“Rata-rata penderita thalassemia masih anak-anak. Sejak anak saya kecil, saya sengaja tidak memberi makan daging, kacang-kacangan, dan buah kering pada anak. Makan harus sayur dan buah yang segar, tidak boleh kering. Sayur pun yang tidak mengandung banyak zat besi, karena takutnya menumpuk dan memperparah sakitnya,” jelas Lilis. (cr3/lis)