Optimalkan Potensi Rempah

795
Foto Sri Puryono
Foto Sri Puryono

SEMARANG – Indonesia terkenal dengan rempah-rempah. Terhitung ada lebih dari 7 ribu jenis rempah Nusantara. Sayang, hanya empat persen yang dimanfaatkan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 90 persen pengelolaanya dilakukan petani. Karena itu, Pemprov Jateng coba menggali potensi rempah untuk dikembangkan menjadi industri jamu, obat, dan kosmetik.

Sekda Jateng, Sri Puryono, mencontohkan, potensi jahe emprit sebagai bahan baku pembuatan jamu, obat, kosmetik, dan lainnya. Ini merupakan peluang bagi para petani untuk mengembangkan sekaligus meningkatkan dan produktivitas guna menenuhi permintaan pasar nasional maupun luar negeri.

“Pada lelang tadi, jahe emprit dari petani asal Boyolali seharga Rp 6.000 per kilogram hanya dalam waktu lima menit sudah laku 100 ton, dan langsung kontrak awal Desember sampai pertengahan Desember,” ujarnya di sela-sela kegiatan Pekan Poros Maritim Berbasis Rempah di Lawang Sewu, Semarang, Kamis (16/11).

Selain jahe, lanjutnya, bermacam jenis rempah masih melimpah dan pasti laku terjual atau terserap ke berbagai industri. Karenanya, sekarang petani jangan hanya berorientasi pada komoditas unggulan dan mengabaikan rempah, karena negeri Indonesia kaya akan rempah.

Untuk mendukung pengembangan dan peningkatan produktivitas rempah, berbagai upaya kerja sama dengan instansi atau lembaga lain dilakukan pemerintah. Seperti kerja sama antara Pemprov Jateng, Perhutani, serta masyarakat dalam pemanfaatan lahan perhutani untuk penanaman hortikultura dan rempah-rempah.

“Petani sudah ada kerja sama, sehingga semua harus dijaga. Khususnya kualitas, kuantitas, serta kontinyuitas, karena penyakit kita, kalau sudah laku lalu kualitas dibaikan. Sehingga pabrik ada jaminan pasokan bahan baku, sedangkan petani mempunyai jaminan pemasaran,” terangnya.

Dijelaskan, produksi komoditas rempah Indonesia seharusnya dapat mengangkat perekonomian bangsa dan menyejahterakan masyarakat. Namun kini kejayaan rempah nusantara sebagai komoditas utama perdagangan Indonesia mulai surut karena tergantikan oleh komoditas lain.

Sementara itu, Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Bambang menyebutkan, sejak dua tahun terakhir pemerintah fokus pada upaya membangun poros maritim, salah satunya membangun tol laut. Dengan adanya tol laut diharapkan kebuntuan transportasi terutama transportasi air dapat teratasi.

“Ini saatnya bagaimana tol laut yang sudah dibangun ini, dimanfaatkan dengan membangkitkan semua potensi perkebunan di berbagai daerah. Terutama rempah yang sejak dahulu merupakan kekayaan luar biasa,” katanya.

Beragam rempah, lanjutnya, akan selalu dibutuhkan oleh manusia. Mulai dari makan, kosmetik, obat, jamu, dan lainnya memerlukan rempah-rempah sebagai bahan baku. Semakin tingginya kebutuhan manusia akan rempah, seharusnya semua sadar jika Indonesia sudah mempunyai modal dasar sebagai penghasil rempah paling baik di dunia.

“Kalau kita tidak segera sikapi, menggerakkan dan membamgkitkan kembali potensi rempah, maka kita akan rugi besar. Kehadiran relawan rempah memadukan poros maritim dengan kekuatan rempah, ini akan menjadi kekuatan besar bagi Indonesia mengawal rakyat kita menuju kemakmuran,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, selain pembukaan Pekan Poros Maritim Berbasis Rempah juga dibacakan deklarasi relawan rempah, minum jamu “wedhang rempah” bersama, serta digelar pasar lelang rempah dan komoditas unggulan dari berbagai daerah di Jateng dan luar Jawa. (amh/zal)