Punya Penjahit Khusus, Pemasaran lewat Instagram

Tiga Mahasiswi Undip Berbisnis Hijab Homemade

981
PARTNER BISNIS: Rizki Fara, Ainun Fadhillah dan Arum Uswatun Hasanah yang mengelola bisnis hijab homemade. (DOKUMEN PRIBADI)
PARTNER BISNIS: Rizki Fara, Ainun Fadhillah dan Arum Uswatun Hasanah yang mengelola bisnis hijab homemade. (DOKUMEN PRIBADI)

Di sela kuliah, tiga mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini menekuni bisnis hijab. Mereka memanfaatkan media sosial dalam pemasaran. Bahkan kini pengikut di akun Instagram Hijab Falihah –nama brand mereka– sudah mencapai 33 ribu follower.

REYUNI ADELINA BARUS

TIDAK bergantung kepada orangtua, terutama menyangkut masalah keuangan, tentu menjadi hal yang ingin dicapai oleh sebagian besar mahasiswa. Begitu pula dengan pemilik usaha Hijab Falihah. Tiga mahasiswi Undip, Rizki Fara, Ainun Fadhillah dan Arum Uswatun Hasanah bersama-sama mencari penghasilan lain dengan mendirikan usaha hijab ini untuk memenuhi kebutuhan mereka yang kian meningkat.

“Soalnya merasa nggak enak hati kalau minta terus ke orangtua, karena semakin banyak kebutuhan yang mau dipenuhi,” kata Fara, salah satu pemilik Hijab Falihah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ide membuka usaha hijab pun dicetuskan secara mendadak, karena tujuan utama mereka hanya ingin membuka usaha yang dapat menghasilkan dan juga bermanfaat bagi banyak orang.

“Awalnya memang cuma mau jualan hijab aja, tapi lama-kelamaan akhirnya kita bisa punya karyawan sendiri dan menambah jaringan serta produksi,” ujarnya.

Hijab Falihah ini sendiri memiliki makna yang cukup dalam bagi Fara dan kedua temannya. Falihah berasal dari Bahasa Arab yang artinya sukses meraih apa yang diinginkan. Selain itu, Falihah sendiri bisa menjadi akronim dari nama pemiliknya. Karena nama adalah doa, maka keindahan di balik nama Falihah ini yang nantinya diharapkan benar-benar terwujud dan akan membawa kesuksesan yang mereka cita-citakan.

“Dulunya, kami merasa fashion untuk muslimah syar’i masih tabu di mata masyarakat, maka kami pikir ini adalah suatu gebrakan baru yang akan membawa perubahan untuk lingkungan sekitar. Dan Alhamdulillah dalam hitungan berapa bulan nama Falihah pun makin dikenal, dan sedikit demi sedikit kita telah memetik hasil dari apa yang telah kami ciptakan,” terang Fara.

Berbicara mengenai tantangan, Fara mengaku tidak begitu terbebani. Pesaing dengan usaha sejenis yang menawarkan produk dengan harga lebih murah memang awalnya menjadi tantangan. Tapi, menurutnya, itu adalah hal yang wajar dalam dunia bisnis.

“Kalau nggak ada pesaing di sekeliling kita, kita juga nggak bakal bisa maju. Karena menurut aku, mereka justru membangkitkan semangat kita untuk terus berinovasi dan berkreasi,” kata gadis asal Semarang ini.

Meskipun sudah menekuni bisnis ini selama dua tahun, Fara mengungkapkan ada beberapa hal yang terkadang menjadi benturan bagi mereka, salah satunya adalah waktu.

“Iya, soalnya kan kita bertiga, jadi kadang susah menemukan waktu buat bareng-bareng gitu. Kadang saya bisa, tapi yang lain nggak bisa, gitu sebaliknya. Tapi, walaupun gitu ya tetap bisa dijalani,” ujarnya.

Mengenai produk, Hijab Falihah ini menjual hijab dan outfit syar’i yang motifnya mayoritas bunga-bunga dan berwarna pastel, karena mereka mengusung tema vintage. Produknya pun dibuat sendiri atau biasa disebut homemade, karena mereka sudah punya penjahit khusus.

Kini, setelah dua tahun, Hijab Falihah semakin berkembang bahkan mendapatkan 33 ribu pengikut di akun online shop-nya di Instagram. “Kita juga nggak nyangka bisa dapat follower sebanyak itu. Dulunya kita rajin nge-share dan ngasih tahu temen-temen tentang usaha ini dan Alhamdulillah waktu pertama bikin akun udah banyak yang follow, terus makin lama makin banyak. Setiap hari bisa ratusan sampai ribuan yang follow,” jelas Fara.

Berbicara soal pengalaman yang paling berkesan selama merintis dan menjalankan usaha ini, Fara mengatakan momen berkesan itu terjadi ketika orang-orang menyukai produk ciptaan mereka.

“Terus mereka jadi loyal customer kita, itu berkesan sih karena nggak mudah bikin orang suka dan setia sama sebuah produk. Kadang kalau lagi di jalan atau di luar, ada orang yang ngeliatin apa yang kita pakai terus nanya beli di mana. Itu kan tandanya mereka suka,” katanya sambil tertawa.

Sejauh ini, setiap bulannya, kurang lebih ada seratus orderan yang masuk dan penghasilan bersih yang didapatkan setiap bulannya mencapai Rp 2 juta. “Tapi kalau kotornya bisa nyampe Rp 10 juta kalau lagi ada acara, lebaran, atau momen-momen tertentu. Kadang kalau hari-hari biasa tapi rame bisa Rp 5 juta,” akunya.

Meskipun menjalankan bisnis sembari kuliah, Fara mengaku kuliahnya tidak terganggu. Dia juga berharap usaha ini nantinya terus berkembang. “Semoga ke depannya ya semakin solid sama tim, terus bisa nambah modal dan makin besarin usahanya. Target yang mau dicapaisih jelas nanti mau buka butik juga Insya’Allah,” tambah Fara. (*/aro)