Buruh Nyonya Meneer Terancam Gigit Jari

Tagihan Disetujui, Tapi Aset Sudah Dilelang

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG-Nasib buruh PT Nyonya Meneer (PT Njonja Meneer) terancam tidak akan menerima hak-haknya. Pasalnya, hampir semua aset perusahaan jamu legendaris Semarang tersebut telah dilelang. Padahal Pengadilan Niaga (PN) Semarang telah mengabulkan permohonan gugatan keberatan atas bantahan tagihan yang dilakukan tim kurator melalui upaya renvoi procedure.

Ketua Lembaga Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (LPPH) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang, Theodorus Yosep Parera, yang mendampingi 58 buruh PT Nyonya Meneer menjelaskan, dalam amar putusannya, majelis hakim Pengadilan Niaga Semarang yang dipimpin Pudjo Hunggul mengabulkan seluruh gugatannya. Gugatan itu diajukan Suprapti dkk (58 buruh) melawan tim kurator PT Nyonya Meneer yang sudah dinyatakan pailit, yakni Ade Liansah dan Wahyu Hidayat.

Ia menyebutkan, dalam gugatannya dikabulkan seluruhnya oleh majelis hakim. Adapun permohonannya menyatakan total tagihan kliennya sebesar Rp 2.080.305.470 yang terdiri atas 58 karyawan Nyonya Meneer, meliputi divisi produksi dan divisi ekspor, dengan jumlah tagihan rata-rata Rp 36 juta per karyawan.

Pihaknya juga memohon majelis hakim mengabulkan gugatan renvoi untuk seluruhnya, dan meminta hakim menyatakan kliennya sebagai kreditur preferen (kreditur yang memiliki hak istimewa atau prioritas, Red).

“Kami bersyukur gugatan dikabulkan seluruhnya. Dalam gugatan, kami juga meminta hakim menghukum kurator memasukkan tagihan uang tersebut ke dalam daftar tagihan tetap kepailitan, dan meminta menghukum kurator membayar biaya perkara,” jelas Yosep Parera didampingi tim LPPH Peradi, Andreas Hijrah Aerudin, Eko Suparno, Taufiqqurrohman, dan Ephin Apriyandanu kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (19/11).

Namun demikian, kemenangan tersebut tampaknya belum menggembirakan bagi para buruh PT Nyonya Meneer. Sebab, sejumlah aset besar yang dimiliki PT Nyonya Meneer yang dijaminkan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Papua dikabarkan sudah dilelang oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Semarang. Sehingga aset sisa, masih belum jelas apakah cukup untuk membayar para kreditur.

Tim kuasa hukum buruh PT Nyonya Meneer lainnya, Kairul Anwar mengaku dari 1.097 karyawan dalam renvoi procedure yang sudah diputus majelis hakim, totalnya dari yang awalnya diajukan sebesar Rp 85 miliar, hanya disetujui Rp 53 miliar. Namun ia menyayangkan, dari jumlah tersebut, hanya berupa angka di kertas saja. Sebab, aset-aset besar PT Nyonya Meneer sudah dijual.

“Buruh yang kami dampingi 1.097 orang. Meliputi, karyawan aktif sebanyak 917 orang, dan karyawan yang masuk dalam PKPU sebanyak 181 orang,” beber Kairul Anwar.

Kuasa hukum yang mempailitkan PT Nyonya Meneer (Hendrianto Bambang), Eka Widhiarto, menyesalkan info dalam website lelang KPKNL, justru tertutup dan hanya bisa diketahui oleh pegawai setempat. Untuk itu, pihaknya akan menggugat lewat Komisi Informasi Publik (KIP) Jateng.

Ia menyampaikan, ada 6 aset PT Nyonya Meneer yang dilelang, namun proses lelang aset tidak transparan. Ia justru menilai gugatan yang diajukan sia-sia, karena sejumlah aset besar Nyonya Meneer sudah dijual.

“Namanya lelang harus terbuka. Harus ada penetapan insolvensi dari Pengadilan Niaga. Tapi saat lelang, (penetapan insolvensi) ini ketika diminta tidak ada, dijawab nanti ditunjukkan di pengadilan saja, padahal sebelum lelang dokumen-dokumen harus sudah diberitahukan,”bebernya.

Seperti diketahui, penetapan insolvensi adalah uatu keadaan di mana debitur dinyatakan benar – benar tidak mampu membayar, atau dengan kata lain harta debitur lebih sedikit jumlah dengan hutangnya.

Saat ditemui di PN Semarang sebelumnya, Tim Kurator PT Nyonya Meneer, Ade Liansah, mengaku belum mengetahui siapa saja pembeli aset PT Nyonya Meneer. Terkait lelang itu, kata dia, seharusnya benar-benar terbuka untuk umum, sehingga pihaknya juga diberitahu. Ade juga berencana akan menempuh upaya hukum berupa permohonan pembatalan.

“Ada satu yang tidak dilelang, yakni satu buah ruko di Jalan Letjend Suprapto. Padahal sebelumnya, kami sudah memberitahukan ke BPD Papua dan KPKNL, namun tak diakomodasi siapa pembeli dalam lelang. Padahal kalau mau eksekusi di dalamnya harus ada kreditur pailit, sedangkan objeknya sudah dijual,”ungkapnya. (jks/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -