Tanam Seribu Mangrove di Bleder dan Pulau Tiban

796
TANAM MANGROVE: Bupati Kendal, Mirna Annisa, saat melakukan penanaman mangrove di Kawasan Bleder dan Pulau Tiban Desa Kartika Jaya, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
TANAM MANGROVE: Bupati Kendal, Mirna Annisa, saat melakukan penanaman mangrove di Kawasan Bleder dan Pulau Tiban Desa Kartika Jaya, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL- Memasuki musim penghujan, Pemerintah Kabupaten Kendal siaga untuk mengatisipasi terjadinya bencana alam. Salah satunya dengan menggelar Gerakan Aksi Seribu Tanam Mangrove di Kawasan Bleder dan Pulau Tiban, Desa Kartika Jaya, Minggu (19/11) kemarin. Aksi tanam magrove yang diadakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal ini melibatkan seribu relawan dari berbagai komunitas, ormas, pelajar dan mahasiswa.

Bupati Kendal, Mirna Annisa, mengatakan, memasuki musim penghujan saat ini, warga perlu waspada dengan adanya bencana alam. Apalagi saat ini kualitas lingkungan cenderung menurun dengan banyaknya kerusakan hutan, abrasi, dan lainnya. Untuk itu, harus ada langkah antisipasi dengan menggerakkan program penghijauan. ”Masyarakat diharapkan aktif dan proaktif, seperti aksi penghijauan dengan menanam mangrove. Masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk ikut menjaga lingkungan,” katanya.

Ia menerangkan, rusaknya pesisir pantai bisa menjadi penyebab bencana, seperti rob dan lainnya. Agar kerusakan pantai tidak semakin parah, ia pun meminta masyarakat pesisir punya kesadaran untuk menanam mangrove dan tidak merusaknya.

“Setelah menanam, yang lebih penting lagi ikut merawatnya. Kegiatan ini tidak hanya seremonial, tapi tanaman harus terus dijaga dan dipelihara,”pintanya.

Kepala Pelaksanaan Harian BPBD Provinsi Jateng, Sarwa Pramana, mengatakan, Kendal merupakan salah satu dari 136 kabupaten di Indonesia yang mendapatkan perhatian dari pemerintah dalam Program Gerakan Penanggulangan Risiko Bencana dengan mengadakan Sekolah Laut. Salah satu kegiataan Sekolah Laut adalah Aksi Tanam Seribu Mangrove yang bertujuan untuk mencegah abrasi.

“Abrasi laut di Kendal memang tidak begitu parah seperti Pekalongan dan Rembang. Tapi, dengan aksi tanam magrove ini diharapkan bisa untuk mencegah terjadinya abrasi sejak dini,”katanya.

Kepala BPBD Kendal, Sigit Sulistyo, mengatakan, Sekolah Laut di Desa Kartika Jaya merupakan percontohan di Kabupaten Kendal. Kegiatan Sekolah Laut yang melibatkan masyarakat setempat ini diikuti dengan pembentukan relawan peduli lingkungan. “Para relawan ini yang menjadi penggerak bagi masyarakat untuk menjaga dan memelihara tanaman mangrove ini,”jelasnya.

Menurutnya, saat ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi jika puncak musim hujan akan terjadi pada Januari 2018. Dengan tingginya curah hujan, dikhawatirkan akan terjadi bencana alam, baik banjir maupun tanah longsor.

“Curah hujannya cukup tinggi, sekitar 300 milimeter – 500 milimeter. Itu setara dengan 5.000 liter air per meter persegi, jadi harus waspada akan adanya bencana alam,” paparnya.

Dengan tingginya curah hujan tersebut, lanjut dia, semua kabupaten/kota di Jawa Tengah harus siap mengantisipasi jika terjadi bencana alam. Ia meminta agar BPBD untuk siaga penuh, seperti menyiapkan posko bencana dan lainnya. “Perlu juga bekerjasama dengan berbagai lini, seperti TNI dan Polri, serta elemen masyarakat,” ujarnya.  (den/adv/aro)