BPR Arto Moro Studi Banding ke Jepang

820
BELAJAR KE JEPANG: Komisaris Utama BPR Arto Moro Semarang, Dr. H. Subyakto, SH,MH,MM (kanan) berfoto di Sentra Industri Kerajinan Kulit di Nagoya, Jepang. (IST)
BELAJAR KE JEPANG: Komisaris Utama BPR Arto Moro Semarang, Dr. H. Subyakto, SH,MH,MM (kanan) berfoto di Sentra Industri Kerajinan Kulit di Nagoya, Jepang. (IST)

KOMISARIS Utama BPR Arto Moro Semarang, Dr H. Subyakto SH, MH, MM, saat ini tengah berkunjung ke Negeri Sakura, Jepang. Kunjungan Subyakto untuk mempelajari karakteristik rural bank (BPR) yang ada di Jepang, kaitannya dalam mendukung industri kecil dan menengah, sehingga industri kecil dan menengah sangat kuat posisi dan perannya dalam menopang perindustrian skala besar di Jepang. Salah satu sentra yang dikunjungi Subyakto adalah Nagoya. Di wilayah tersebut, banyak ditemukan industri/pengrajin kulit.

“Beberapa hal penting yang saya peroleh dari kunjungan ini adalah bahwa rural bank (BPR) memberikan fasilitas kredit, sekaligus memberikan pembinaan dalam bentuk kemitraan antara bank dengan debitur (industri kecil dan menengah/UMKM,” kata Subyakto melalui sambungan telepon pintar.

Menurut Subyakto, di Jepang, BPR (rural bank) selalu memantau perkembangan usaha, sekaligus supervisi, baik secara managerial maupun hal-hal yang bersifat teknis. “Pola kemitraan itu menjadikan industri kecil/UMKM di Jepang sangat kuat dan fasilitas pinjaman yang diterima mereka benar-benar secara disipilin, dipergunakan untuk pengembangan usaha, meski industri kecil mereka hanya dikelola oleh keluarga.” Adapun bank umum, hanya memberikan fasilitas kredit kepada korporasi (industri sekala besar), sehingga rural bank (BPR) benar-benar dapat tumbuh dan berkembang di Jepang.

Kondisi yang demikian, lanjut Subyakto, beda dengan bank umum di Indonesia yang masih diwajibkan menyalurkan pinjaman kepada UMKM sebesar 15 persen dari total penyaluran kreditnya. “Tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri bagi BPR, karena harus bersaing dengan bank umum yang notabene mereka telah siap segalanya,” kata mantan anggota DPR RI itu.

Belum lagi, sambung Subyakto, jika nasabah BPR yang secara skala bisnis mengalami perkembangan, maka bank umum akan memberikan fasilitas yang lebih menarik. Sehingga pada akhirnya, BPR harus merelakan nasabah binaannya menjadi nasabah bank umum. “Sekali lagi, ini menjadi tantangan tersendiri bagi BPR di Indonesia untuk bisa bersaing dan mengelola porsi 15 persen dari bank umum.”

Untuk itulah, kata peraih Leadership Award 2017 Jawa Pos Radar Semarang-Radar Kedu tersebut, manajemen BPR Arto Moro tidak pernah malu untuk bertanya dan belajar. “Setelah ke Jepang, pada Januari 2018, jajaran direksi dan komisaris telah merencanakan untuk berkunjung ke Tiongkok guna mempelajari karakteristik rural bank/BPR dan industri kecil-menengah (UMKM) di Tiongkok.” (sct/isk)