Belajar Kimia dengan Alpa Bemo

568
Oleh: Idha Nurhayati
Oleh: Idha Nurhayati

EFEKTIVITAS penggunaan alat peraga dalam pembelajaran tidak ditentukan oleh seberapa canggih dan modernnya alat peraga tersebut, tetapi lebih ditentukan oleh kesesuaian alat peraga dengan materi yang diajarkan. Alpa Bemo (Alat Peraga Bentuk Molekul) adalah alat peraga yang sangat sederhana, mudah, murah, fleksibel dan tahan lama. Namun bukan kesederhanaanya yang menjadikan Alpa Bemo istimewa, melainkan karena kemampuannya dalam menjelmakan bentuk molekul yang abstrak menjadi bentuk nyata.

Berdasarkan pengalaman penulis, siswa mampu mengingat dan merancang bentuk-bentuk molekul jauh lebih baik, diikuti dengan peningkatan hasil belajar yang signifikan setelah menggunakan Alpa Bemo dalam pembelajaran Bentuk Molekul. Karena keberhasilannya, Alpa Bemo mampu bersaing di tingkat nasional hingga memperoleh penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional sebagai Pemenang dalam Lomba Karya Ilmiah Simposium Guru 2015.

Dalam pembelajaran kimia, bentuk molekul adalah bentuk tiga dimensi yang muncul karena tata letak atom-atom di sekitar atom pusat yang orientasinya sangat dipengaruhi oleh tata letak pasangan elektron bebas dan pasangan elektron ikatan dalam atom pusat. Terdapat berbagai bentuk molekul, di antaranya adalah bentuk linier, segi tiga datar, tetrahedron, oktahedron dan lain-lain.

Konsep bentuk molekul cukup sulit dipahami oleh siswa karena bersifat abstrak. Untuk dapat menanamkan konsep kepada siswa, dibutuhkan alat peraga yang mampu menggambarkan bentuk molekul secara nyata. Tanpa alat peraga yang sesuai, sulit bagi siswa untuk memahami, mengingat ataupun memperkirakan bentuk-bentuk molekul.

Menurut pendapat Edgar Dale: “Simbol dan gagasan yang abstrak akan lebih mudah dipahami dan diserap apabila diberikan dalam bentuk pengalaman konkrit”.

Dari pendapat tersebut, penulis berinisiatif untuk merancang Alpa Bemo. Adapun bahan yang dibutuhkan adalah:1) Malam 2 warna, 2) Lidi (8 cm) sebanyak 6 batang, dan 3) Penggaris busur. Dari bahan-bahan tersebut, Alpa Bemo dibuat dengan cara membentuk malam menjadi 2 macam bola, yakni bola warna pertama sebanyak 1 buah dan bola warna kedua sebanyak 6 buah.

Selanjutnya lidi bambu dipotong sepanjang 8 cm dan kedua ujungnya di runcingkan. Alpa Bemo dirangkai dari bola warna pertama, bola kedua, dan lidi sebagai berikut: bola warna pertama sebagai atom pusat, dan bola warna kedua sebagai atom pinggir. Atom pusat dan atom pinggir dihubungkan oleh lidi sesuai dengan bentuk molekulnya. Sudut yang terbentuk dari rangkaian tersebut diukur dengan penggaris busur sesuai dengan ketentuan.