Istri Bos Pil PCC Ikut Diperiksa

956

SEMARANG-Polda Jateng terus mengusut kasus penggerebekan pabrik pil PCC di Jalan Halmahera, Karang Tempel, Semarang, Minggu (3/2) lalu. Selain memeriksa dan menahan 20 tersangka, penyidik Polda Jateng juga memeriksa F, istri Joni, 38, bos pil PCC Semarang.

Wakapolda Jateng Brigjen Pol Indrajit mengatakan, pengungkapan kasus ini masih dalam tahap awal, dan akan terus dilakukan pengembangan. Pihak Polda Jateng juga akan terus berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat dan Bareskrim Mabes Polri untuk bersama-sama mengembangkan kasus yang diduga dibekingi oknum aparat ini. “Ditreskrimsus kita libatkan untuk pemalsuan merek obat. Krimum juga, dan yang paling utama adalah Ditresnarkoba,” katanya, Rabu (6/12) kemarin.

Pada pengungkapan kasus ini, sudah 20 orang ditetapkan sebagai tersangka. Namun tidak menutup kemungkinan bisa bertambah. Sebab, kemarin istri tersangka Joni, juga dilakukan pemeriksaan oleh penyidik Polda Jateng. “Saat ini masih dalam tahap pemeriksaan sejauh mana perannya? Ini baru awal, akan dikembangkan lagi siapapun yang terlibat nanti akan diselidiki,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang beredar, istri Joni diketahui berinisial F, berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta di Semarang. Pada saat petugas BNN menangkap tersangka Joni, F juga sempat diamankan dan beberapa kali diperiksa petugas. “Peluang (istri Joni) menjadi tersangka belum ada, karena masih dalam pemeriksaan polisi. Kami tidak bisa semena-mena menentukan tersangka, perlu bukti kuat,” katanya.

Indrajit kembali menegaskan, akan terus mengusut tuntas kasus ini. Bahkan, pihaknya tidak tebang pilih dan tidak segan menindak anggotanya yang terbukti terseret kasus ini. “Tunggu saja, kalau memang cukup buktinya siapapun, saya ulangi siapapun ditangkap, jangankan istrinya Joni, termasuk mungkin kalau ada dari kepolisian atau lembaga yang lain juga kita tangkap dan jadikan tersangka. Tapi tidak sembarangan,” tegasnya.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo mengakui pil PCC produksi Halmahera itu tidak hanya beredar di pulau Kalimantan. Pil terlarang ini diduga telah beredar luas di kota/kabupaten di Jawa Tengah. “Ini harus kita waspadai, karena beberapa kasus sudah pernah terjadi di Gringsing BATANG, peredaran dan penggunaan. Di tempat lain saya kira masih sangat memungkinkan, karena ini harganya sangat murah dan pabriknya di Jateng,” bebernya.

Pada penanganan kasus ini, pihak BNNP Jateng membentuk tim satgas untuk menggelar sidak di semua apotek-apotek yang diduga masih menjual bebas pil Paracetamol, Caffeine, Caresoprodol (PCC). Razia yang dilakukan terpadu nantinya melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng dan Balai POM Semarang.  “Kita akan bentuk tim untuk merazia setiap apotek karena tidak menutup kemungkinan pil itu juga dijual di apotek. Tentunya kita tetap berkoordinasi dengan Balai POM dan bersinergi dengan Dinkes untuk melakukan pengawasan di lapangan,” katanya. (mha/aro)