Masuk Musim Hujan, Produsen Kerupuk Merugi

1247
MERUGI: Salahsatu pengrajin kerupuk di Desa Tuntang Kecamatan Tuntang, Wardati saat menjemur kerupuk memanfaatkan sinar matahari. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERUGI: Salahsatu pengrajin kerupuk di Desa Tuntang Kecamatan Tuntang, Wardati saat menjemur kerupuk memanfaatkan sinar matahari. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Kondisi cuaca ekstrem mempengaruhi produksi kerupuk. Hal itu diakui oleh beberapa produsen kerupuk Desa Tuntang Kecamatan Tuntang, Jumat (15/12). Salah satu produsen kerupuk di desa tersebut, Wardati, 52, mengungkapkan jika minimnya sinar matahari membuat penjemuran kerupuk tidak maksimal.

“Kalau tidak teliti, kerupuk bisa terkena jamur, karena minim sinar matahari saat dijemur,” ujar Wardati. Maklum saja, proses pengeringan pembuatan kerupuk masih menggunakan cara tradisional yaitu mengandalkan sinar matahari secara langsung.

Kondisi tersebut sontak membuat omzet produksi kerupuknya menurun drastis. Padahal, saat musim hujan seperti ini pesanan kerupuk mentah darinya selalu meningkat. Namun karena pengeringan tidak sempurna, banyak kerupuk mentah yang terkena jamur.“Kalau terkena jamur jelas tidak bisa dipakai, kita buang,” ujarnya.

Saat musim penghujan seperti saat ini, produksi krupuk mentahnya hanya mencapai 2 kuintal dalam satu hari. Padahal jika musim kemarau, produksi kerupuk mentahnya bisa mencapai 4 kuintal.

Namun saat produksi meningkat seperti waktu musim kemarau, pesanan justru lebih sedikit. Berbeda saat musim penghujan, dimana jumlah produksi tidak bisa banyak namun jumlah pesanan meningkat.“Dibanding musim kemarau peningkatan pembeli justru sekarang bisa dirasakan oleh kita namun dampak cuaca mempengaruhi kendala proses pembuatan kerupuk,” katanya.

Dijelaskannya, untuk mengeringkan kerupuk mentah produksinya saat musim penghujan harus memakan waktu hingga tiga sampai empat hari lamanya. Belum lagi, saat belum sampai mencapai kekeringan yang maksimal ada kerupuk yang jamuran.

Karena musim penghujan pihaknya belum bisa memenuhi semua pesanan. Bahkan beberapa pesanan terpaksa harus ditolak. Hal itu disebabkan waktu pengeringan kerupuk yang membutuhkan waktu lama. Kerupuk buatannya,saat ini tidak hanya dipasarkan di Pulau Jawa saja, namun juga luar Pulau Jawa. “Kalau kota sekitar sudah banyak yang pesan, juga Jakarta dan luar Jawa juga banyak yang pesan,” ujarnya.

Usaha tersebut merupakan usaha yang dikelola secara tutun temurun. Kondisi serupa juga dialami oleh produsen kerupuk mentah lain di desa setempat. Rudiyanto, 48, warga Dusun Gading Desa Tuntang juga mengalami hal serupa.

Setiap musim penghujan, ia merasa kewalahan dalam mengeringkan kerupuk hasil produksinya. Sedangkan, untuk pesanan dari pelanggan ataupun konsumen sudah menumpuk, akibatnya pesanan tidak dapat terpenuhi.“Kebanyakan produsen kerupuk disini masih menggunakan pengeringan dengan cara tradisional, yaitu mengandalkan sinar matahari,” ujarnya. (ewb/bas)