Habisi Korban, Datangi Keluarga, Minta Uang

1257
SIDAK : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, saat memeriksa pembangunan Pasar Kedungwuni blok F, kemarin. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
SIDAK : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, saat memeriksa pembangunan Pasar Kedungwuni blok F, kemarin. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

BATANG – Muslimin, 46, sang dukun sadis berkedok dukun pengganda uang mengaku semua korban dipukul dengan kayu balok di bagian belakang kepala. Bahkan korban kedua yang ditemukan, diakui dikubur saat masih sekarat.

“Semua korban sengaja ingin saya bunuh, selain ingin menguasai hartanya juga biar tidak ditagih hutang,” ucap Muslimin dingin, saat diperiksa tim penyidik Unit 1 Satreskrim Polres Batang, didampingi kuasa hukumnya, pada Senin (18/12).

Dihadapan petugas dan sejumlah awak media, pendatang asal Makasar ini, menceritakan dengan detail caranya membunuh para korbanya.

Korban pertama yang dihabisi adalah Slamet alias Sugeng, warga Dukuh Sambungrejo Desa Sawangan Gringsing. Menurut pelaku, dia memang ingin menguasai uang korban sebanyak Rp 140 juta. Korban yang waktu itu baru saja mendapat uang pinjaman dari bank, setelah bisnisnya kolaps, dibujuk oleh pelaku untuk menggandakan uangnya.

Tertarik korban diajak ritual, namun usai mengantongi uang yang akan digandakan, Sugeng yang saat itu hanya mengenakan sarung, dipukul dengan menggunakan balok kayu oleh pelaku di kandang peternakan ayam milik korban, pada 3 tahun silam. Sadisnya, Muslimin mengaku, saat korban tengah sekarat, korban langsung dikubur.

Usai membunuh, esoknya dengan santai Mulismin mendatangi istri korban, mengabarkan bahwa korban berpamitan pergi keluar negeri ke Malaysia, keluarga juga percaya karena korban sebelumnya memang jadi TKI. Pelaku mengaku uang yang didapat dari membunuh Sugeng, digunakan untuk membeli tanah dan rumah di desa tersebut.

Pada kasus kedua, korban bernama Luthfie Abdilah, 25, warga Cepiring Kendal yang dikenalkan oleh seseorang. Karena lelah dengan janji sang dukun palsu, korban kemudian datang menagih uang yang akan digandakannya. Korban diketahui berikan uang Rp 700 ribu kepada pelaku. Namun saat ditagih sang dukun selalu mengelak, sehingga ia merencanakan untuk membunuh, agar tidak menagih uang tersebut.

Pelaku Muslimin juga mengatakan cara membunuh korban Luthfie dengan dipukul dengan balok kayu, dan mayatnya dikuburkan dikebun yang tak jauh dari rumah Muslimin.

Selanjutnya pelaku kembali bersandiwara datang ke rumah orang tua korban, dan berpura-pura bahwa korban Luthfie meminjam uang kepada pelaku, untuk berangkat kerja ke Jakarta. Akhirnya pelaku meminta tebusan kepada keluarga korban.

Korban selanjutnya, Restu Novianto, warga Desa Plelen Gringsing. Muslimin kesal korban datang terus menagih penggandaan uang. Hingga akhirnya juga dibunuh dengan cara yang sama dengan Luthfie.

Kapolres Batang AKBP Edi Suranta Sinulingga meminta kerjasama dan informasi dari masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga yang berkaitan dengan modus penggandaan uang, dengan harapan agar kasus ini segera tuntas.

“Saya harap kepada masyarakat jika punya informasi terkait hal ini, bisa melaporkan kepada kami.  Agar kasus ini bisa lebih mudah terungkap,” ucapnya Senin (18/12).

Hingga kini, jajaran Satreskrim Polres Batang bersama Polsek Gringsing terus mendalami kasus ini. Sementara, istri dan anak-anak pelaku sudah dievakuasi oleh petugas ditempat yang aman, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.  (han/zal)