Grammar, Hantu yang Menyenangkan

812
Palita Ruhamaningtyas SPd (IST)
Palita Ruhamaningtyas SPd (IST)

RADARSEMARANG.COM – APA yang muncul di pikiran siswa ketika mendengar kata grammar? Susah, pusing dan membosankan adalah sebagian kecil kata yang berasosiasi dengan grammar. Sudah sejak lama grammar menjadi momok bagi siswa dalam mempelajari bahasa Inggris. Padahal peran grammar dalam penguasaan bahasa Inggris tak kalah pentingnya dengan communication skill.

Di satu sisi, kurikulum 2013 sekarang berbasis keterampilam abad 21 yaitu critical thinking and problem solving, creativity, collaboration, dan communication.  Di sisi lain, motivasi belajar siswa yang rendah ketika berhadapan dengan grammar bisa menjadi penghambat dan pada akhirnya mempengaruhi hasil belajar mereka. Untuk menjawab tantangan tersebut, guru harus memilih strategi dan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswanya.

Salah satu alternatif yang bisa digunakan guru yaitu penggunaan metode permainan. Memang terdengar kuno, tetapi permainan banyak memiliki manfat dan kelebihan, antara lain membuat pembelajaran menyenangkan, mengurangi tekanan dan stres, membantu siswa memusatkan perhatian mereka pada pelajaran, dan meningkatkan motivasi belajar siswa yang berbanding lurus dengan hasil belajar. Permainan juga dapat dimanfaatkan guru untuk melatih soft skill seperti aktif, sportif, jujur, kerja sama, dan bersaing dalam suatu kompetisi.

Guru dapat mengkombinasikan beberapa jenis permainan dengan soal-soal latihan grammar. Selain itu, permainan sebaiknya dilakukan di luar kelas agar tidak mengganggu kelas lain dan siswa memiliki ruang gerak yang lebih leluasa.

Beberapa permainan yang cocok diterapkan untuk pembelajaran grammar antara lain: Pertama, Chinese Whisper, dalam permainan ini siswa dibagi menjadi kelompok kecil dan berbaris ke belakang. Pemain pertama akan membisikkan suatu pesan dengan grammar tertentu ke pemain kedua, dan seterusnya hingga ke pemain terakhir. Pemain terakhir menyampaikan pesan tersebut untuk kemudian dibandingkan dengan pesan awal yang diberikan oleh pemain pertama. Permainan ini juga sekaligus dapat meningkatkan kemampuan listening dan speaking siswa.

Kedua, Do you like your neighbor? Dalam permainan ini, siswa duduk melingkar dengan siswa A berdiri di tengah lingkaran. Jika ada 30 siswa, jumlah kursi 29 buah. Siswa A diberi soal grammar untuk dijawab. Setelah siswa A menjawab soal dengan benar, dia berhak bertanya kepada siswa B, ‘Do you like your neighbor?’ Jika siswa B menjawab ‘Yes, I like my neighbor’ maka siswa yang berada di kanan dan kiri siswa B secepatnya bertukar posisi sebelum siswa A menduduki kursi mereka. Jika siswa B menjawab ‘No. But, I like everyone… (misal: who is wearing glasses)’ maka semua siswa berkacamata pindah ke kursi lain. Akan tersisa satu siswa yang tidak kebagian kursi sehingga harus berdiri di tengah. Permainan pun diulang dari awal.

Tiga, Catch me if you can, suatu permainan dimana setiap punggung siswa ditempel name tag besar berbentuk amplop berisikan soal grammar. Siswa dalam kelompok berusaha mengejar anggota kelompok lain dan merebut name tag-nya untuk mendapatkan soal. Siswa tanpa name tag tidak boleh lagi ikut dalam pengejaran. Ketika mendapatkan soal, siswa menjawab soal di depan guru. Setelah berhasil siswa kembali ke pengejaran. Permainan berlanjut sampai name-tag soal habis dan kelompok dengan skor tertinggi menjadi pemenang.

Setelah permaian selesai, siswa diberi kesempatan untuk bertanya, mereviu, dan menyimpulkan pelajaran grammar di hari itu. Siswa dapat pula diberikan copy soal-soal yang dipakai dalam permainan untuk dipelajari ulang di rumah. Permainan-permainan tersebut, apabila diterapkan secara efektif akan dapat menambah motivasi siswa. Apabila sikap (attitude) siswa berubah dan motivasi belajar mereka meningkat, maka hasil belajar (aptitude) mereka akan meningkat pula. Dengan demikian, Grammar akan berhenti menjadi hantu yang menakutkan bagi siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris. (*/aro)

Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Pati