182 Atlet Turun di Kejurnas Petanque

1753
ASAH KETEPATAN: Salah seorang atlit sedang berkonsentrasi melemparkan sebuah bola untuk mendapatkan nilai terbaik. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ASAH KETEPATAN: Salah seorang atlit sedang berkonsentrasi melemparkan sebuah bola untuk mendapatkan nilai terbaik. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebanyak 182 atlet dari 10 Provinsi mengikuti kejuraan nasional (Kejurnas) petanque 2018 yang diselenggarakan di GOR Upgris, mulai Jumat (26/1) sampai Minggu (28/1) . Olahraga yang menggedepankan akurasi dan strategi asal Perancis, Petanque kini semakin berkembang di Indonesia setelah dipopulerkan di Sea Games 2011 di Indonesia.

Ketua Umum PB Federai Olahraga Petanque Indonesia  (Fopi) Caca Isa Saleh mengatakan, perkembangan olahraga Petanque kini semakin berkembang pesat di Indonesia. Saat ini sudah ada 22 Provinsi yang memiliki pengurus Petanque ditingkat Provinsi.  Olahraga itu sendiri mengharuskan atletnya punya daya konsentrasi tinggi, ketepatan dan strategi untuk memenangkan pertandingan.

“Dulu memang kita tidak punya atlet pada tahun 2011, namun SEA Games 2011 di Jakarta dan Palembang, Fopi menyiapkan atlet yang dulu diambil dari tentara sampai sekolah atlet untuk berlatih. Sampai saat ini terus berkembang,” katanya usai pembukaan Kejurnas Petanque Double Open Tournament 2nd Anniverasy Fopi Jateng, kemarin.

Dari SEA Games 2011, terang Caca banyak atlet dan Unveristas turut mengembangkan Petanque. Menurut dirinya bermain Petanque tidaklah sulit, mirip orang bermain kelereng. Diajang bertaraf dunia banyak atlit di Indonesia yang berhasil meraih medali. “Cenderung mudah, mirip bermain kelerengen hanya dimodifikasi, semua usia pun bisa belajar permaian ini. Khusus ajang ini dilombakan satu kelas yakni  double open,”tuturnya.

Sementara itu, Rektor Upgris, Dr. Muhdi menerangkan jika masa depan olahraga Petanque cenderung cerah khususnya bagi atlet muda Indonesia. Hal tersebut dikarenakan adanya kecocokan dengan permainan tradisional Indonesia. “Bisa jadi mereka akan sukses diajang yang lebih besar,” tambahnya.

Dengan digelarnya turnamen tersebut, lanjut Muhdi bisa dijadikan pemanasan atlet dari Indonesia untuk mengikuti ajang yang lebih besar. Sebelumnya Upgris pun telah mengembangkan permaian tersebut, bahkanada beberapa dosen dari Upgris yang menjadi atlit. “Coba kami kembangkan lebih jauh, mahasiswa juga sudah main diberbagai tingkat daerah,” pungkasnya. (den/bas)