Penerimaan Santri Baru Diperketat

2904
KONSENTRASI : Sejumlah santri Ponpes Sirojul Mukhlasin II di Krincing, Secang sedang membaca ayat suci Alquran, Jumat (16/2). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
KONSENTRASI : Sejumlah santri Ponpes Sirojul Mukhlasin II di Krincing, Secang sedang membaca ayat suci Alquran, Jumat (16/2). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Pengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Sirojul Mukhlasin II di Krincing, Secang, Kabupaten Magelang akan memperketat seleksi penerimaan siswa-siswi. Hal ini menyusul insiden penyerangan Gereja Santa Lidwina Yogyakarta yang dilakukan mantan santri ponpes tersebut, Suliyono.

“Kami akan memperketat penerimaan calon santri. Selain itu, kami akan memperketat pengawasan terhadap keseharian santri. Selama ini tidak terpikir akan terjadi seperti ini dari kalangan santri. Karena ajaran pondok sesuai syariat Islam dan sangat bertentangan dengan ajaran yang keras dan radikal tersebut,” ujar Pengasuh Ponpes Sirojul Mukhlasin II KH Abdul Hamid kepada wartawan, Jumat (16/2).

Abdul Hamid memastikan, tindakan kekerasan bukanlah ajaran dari pondok pesantrennya. Hal itu bisa disaksikan atau ditanyakan pada masyarakat sekitar. “Tidak pernah sedikit pun ajaran ponpes mengarah ke sana (kekerasan). Masyarakat juga bisa melihat keseharian santri dan pondok. Ajaran dan suasana pondok tidak mendukung tumbuhnya paham kekerasan seperti ini. Dia (Suliyono, red) mendapatkan itu bukan dari pondok, tapi dari luar,” tegas putra kedua KH Mukhlisun tersebut.

Terkait kejadian penyerangan di Gereja Lidwina, pihaknya sangat mengutuk keras kejadian tersebut. Ia juga mengimbau kepada seluruh wali murid dan masyarakat untuk menjaga kedamaian, keamanan, ketenangan, dan ketertiban serta tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan.

“Ponpes tidak pernah ajarkan kekerasan dan hal-hal yang bersifat radikal, apalagi terorisme. Pondok kami memiliki pandangan positif tentang Islam Rahmatan Lil Alamin. Sejak berdiri 102 tahun lalu, pondok masih berpegang teguh dalam menganut, mengajarkan, dan menyebarkan faham Ahlusunnah Wal Jamaah, sejalan dengan pesantren NU lainnya,” tegas Abdul Hamid.

Saat disinggung mengenai sosok Suliyono, Abdul Hamid menjelaskan bahwa pelaku memang sempat menjadi santri selama dua tahun sejak tahun 2015 di Ponpes Sirojul Mukhlasin II dan dipindahkan ke Ponpes Sirojul Mukhlasin I di Payaman. Namun akhirnya Suliyono dikeluarkan karena tidak disiplin serta sering melanggar tata tertib ponpes. Suliyono, menurut Abdul Hamid, termasuk santri yang pendiam dan tidak banyak bicara serta tidak nyantri secara tuntas selama 7 tahun.

“Sejauh laporan yang kami dapatkan, memang dia sempat berbicara tentang jihad pada teman-temannya. Tapi pemikiran dan pembicaraan ini tidak cocok dengan teman-temannya, sehingga akhirnya menjadi banyak penyendiri, karena pemikirannya berlawanan ajaran ponpes,” jelasnya. (cr3/ton)