Iklan Berjalan Kian Marak di Kota Atlas

Tempuh Perjalanan, Sambil Raup Uang

1938

Meski tidak ada data secara pasti, diperkirakan masing-masing startup mobil branding tersebut menglaim telah memiliki mitra driver ribuan hingga puluhan ribu di sejumlah kota besar.

Fenomena mobil branding ini tak terlepas dari munculnya sebuah startup bernama Wrapify di Amerika Serikat 2015 silam. Mereka mengajak pada pengemudi mobil untuk menjadikan bodi kendaraan mereka sebagai media beriklan. Ide bisnis tersebut terbukti sukses. Popularitas Wrapify secara tidak langsung menginspirasi kemunculan aplikasi lain di berbagai belahan negara, termasuk Indonesia.

“Tertarik sebagai mitra karena hanya dengan merelakan bodi mobil ditempel stiker, saya mendapat uang tambahan. Lumayan, mobil saya gunakan jalan-jalan ke mana saja, bisa dapat uang,” kata Arif Rahman, 37, warga Ngaliyan Kota Semarang, kemarin.

Pendaftarannya juga sangat mudah melalui aplikasi Android yang bisa di-download di Google Play Store atau lewat situs resmi aplikasi tersebut. Setelah mendapat konfirmasi lebih lanjut, lalu pemilik mobil diminta mendatangi kantor cabang di masing-masing kota. “Mitra pengemudi bisa mengakses akun pribadi dan memilih wilayah promosi iklan,” katanya.

Meski memiliki konsep serupa, setiap aplikasi memiliki aturan berbeda-beda. Termasuk aturan penetapan komisi. Ada yang maksimal harian menempuh jarak lima puluh kilometer. Maksimal setiap bulan 1.500 kilometer. “Rata-rata, saya setiap bulan menerima komisi Rp 1,5 juta. Ada juga yang menempuh minimal 1.000 kilometer, maksimal 2.500 kilometer per bulan, dengan komisi 30-40 persen,” katanya.