Iklan Berjalan Kian Marak di Kota Atlas

Tempuh Perjalanan, Sambil Raup Uang

1939

Sementara itu, Ariyanto pengemudi Grab lainnya menuturkan beberapa kendala jika menggunakan iklan berjalan tersebut. Di antaranya tempat duduk jadi sedikit sempit sehingga menganggu kenyamanan penumpang. “Kalau buat boncengan juga agak ribet, belum lagi kalau dipakai sendiri pas ngga kerja. Jadi pusat perhatian orang,” ucapnya.

Iklan itu sendiri tidak bisa dilepas oleh pemilik motor, karena dipasang sebuah alat dan pastinya menyalahi kontrak yang sebelumnya disepakati kedua belah pihak. “Kalau mau pergi dan pas nggak narik susahnya disitu. Minimal harus ada motor dua. Yang satu buat kerja, yang satu buat pribadi,” bebernya.

Ariyanto sendiri sebelumnya mendapatkan kontrak selama 1 bulan. Saat itu ia mendapatkan pesan singkat dari Grab terkait tawaran tersebut. Setiap bulannya, sama seperti Ryan bisa mengantongi uang sebesar Rp 450 ribu. “Lumayan juga buat tambahan, kalau buat kerja setiap bulan 1.000 kilometer juga cukup mudah,” tambahnya.

Lantas bagaimana pembayaran pajaknya? Kepala Seksi Pendaftaran dan Pendapatan Pajak, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang, Elly Asmara menyatakan bahwa iklan yang menempel di kendaraan roda dua yang belakangan ini mulai marak memang sudah diatur dalam Perda. Masuknya pajak reklame kendaraan. Dan selama ini sudah berjalan. Pendapatan pajak dari jenis reklame kendaraan memang tidak begitu besar. Karena memang pajaknya murah sekali. “Hanya puluhan ribu saja per meter, per tahun. Jadi sangat kecil sekali,” kata Elly. (amu/den/zal/ida)