Pembobol Brankas Nawakara Divonis 20 Bulan

965

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Tiga terdakwa dalam perkara dugaan penggelapan uang di PT Nawakara Arta Kencana Cabang Semarang sebesar Rp 2,3 miliar divonis satu tahun delapan bulan penjara. Mereka adalah dua staf kasir PT Nawakara, Taufiq Setiyawan dan Fajar Pratono, serta satpam perusahaan, Supriyadi.

Majelis hakim yang dipimpin, Moh Sutarwadi menjatuhkan vonis lebih rendah empat bulan, dibandingkan dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang Sri Suparni, selama dua tahun penjara.  Dalam kasus itu, ketiganya dinyatakan terbukti bersalah dengan sengaja melakukan penggelapan yang penguasaannya terhadap barang karena ada hubungan kerja, sebagaimana Pasal 374 KUHP juncto pasal 55 KUHP.

Dalam pertimbangannya, majelis menyebutkan, hal memberatkan karena perbuatan terdakwa ini merugikan klien PT Nawakara, yakni Bank Mega. Selain itu ketiga terdakwa juga menikmati hasil dari perbuatannya. Sedangkan hal meringankan, disebutkan majelis, terdakwa mengakui perbuatannya dan bersikap sopan selama dipersidangan.

“Atas hukuman itu, kami tidak mengajukan banding,” kata kuasa hukum Taufiq, Suryono, dari LBH Mawar Saron di Semarang, Senin (19/2).

Perlu diketahui, tindak pidana penggelapan itu terjadi pada Kamis,15 Juni 2017 sekitar jam 09.00 di kantor PT Nawakara di Jalan Erlangga Raya Nomor 48 Kelurahan Pleburan, Semarang Selatan.

Saat itu, tim audit internal PT Nawakara Arta Kencana Pusat Jakarta terdiri atas saksi Raden Dede Kurniawan, Sugiyanto, Adiatna Hardiana, dan Agus Priyanto melakukan inspeksi mendadak untuk mengetahui jumlah fisik atau uang tunai di perusahaan di kantor cabang Semarang.

Namun, Kepala PT Nawakara Cabang Semarang Raden Dimas Teguh Wicaksana, terdakwa lain yang telah dihukum lima tahun penjara dalam perkara sama, berusaha menghindar. Dimas Teguh selalu berkelit dengan alasan ketemu kliennya. Kantor pusat diminta menunggu satu hari, hingga Jumat, 16 Juni 2017.

Ketika itu, ia justru menghubungi Taufiq dan Fajar untuk mengambil uang di brankas dan ruang monitor PT Nawakara sebesar Rp 650 juta. Peristiwa ini terekam kamera CCTV. Selanjutnya, uang itu diserahkan terdakwa Taufiq dan Fajar di SPBU, Jalan Ahmad Yani, Semarang. Pada akhirnya, tim audit membuka paksa brankas. Dari perhitungan fisik uang, terdapat selisih Rp 2,3 miliar yang harus dipertanggungjawabkan para terdakwa. (jks/zal)