Talut Longsor, 9 Rumah Terancam

775
LONGSOR : Anggota Koramil 07/Wirosari memantau longsor di Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan, kemarin. (INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)
LONGSOR : Anggota Koramil 07/Wirosari memantau longsor di Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan, kemarin. (INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

RADARSEMARANG.COM, GROBOGAN – Longsor mengancam sembilan rumah warga di Dusun Kalirejo, Desa Kalirejo, Wirosari. Kondisi ini disebabkan musibah longsor talut Sungai Lusi di belakang pemukiman warga tersebut.

”Longsorannya sudah terjadi sekitar delapan bulan lalu. Kami sudah melaporkan ke desa hingga kecamatan, namun belum ada penanganan dari instansi terkait,” kata Kepala Dusun Kalirejo, Darno.

Lambannya penanganan itu menyebabkan talut yang longsor semakin parah. Bahkan mengancam sembilan rumah warga di belakang sungai. Keadaan rumah warga juga sudah ada yang rusak parah. Bahkan sebagian bangunan roboh.

Tak hanya itu, beberapa warga juga rela menggeserkan maju bangunan rumahnya. Hingga ada warga membangun rumah lagi yang berpindah ke lokasi lain. Sebab, saat ini rumah mereka sudah tidak aman ditempati.

Kondisi longsor di Dusun Kalirejo ini cukup parah. Warga berharap, ada upaya penanganan karena sudah mengancam bangunan rumah warga. Sebelumnya, longsoran sempat ditinjau dari beberapa instansi tetapi belum kunjung ada penanganan

”Jumat (23/2) lalu kembali terjadi pergerakan tanah di belakang pemukiman warga itu. Menurut beberapa petugas yang meninjau ke lokasi, longsor terjadi karena tanah labih oleh gerusan air sungai serta curah hujan yang cukup tinggi beberapa hari terakhir,” ujar Kadus.

Bahkan talut yang longsor itu memiliki kedalaman hingga tiga meter, dengan panjang 72 meter dan lebar longsor mencapai 50 meter. Akibat kejadian tersebut, beberapa rumah warga bagian belakang yang terbuat dari bambu hingga kayu rusak akibat longsor. ”Tentunya kami menyayangkan, jika longsor ini terus dibiarkan maka kerusakan rumah warga akan semakin meluas. Bahkan bisa hilang digerus longsor,” keluhnya.

Sembilan warga yang menjadi dampak longsor paling parah, diantaranya, Ngadi, 45; Radiyem, 40; Kaersono, 50; Supardi, 67; Suwarsi, 77; Budi Santoso, 30; Kariyem, 70; Suwarjo, 40; dan Suwardi, 43. (int/lil/ric)