Era Digital, Banyak Pelajar Terkena Rabun Jauh

686
LAKUKAN PEMERIKSAAN MATA : Mahasiswa Stikes Widya Husada, melakukan pemeriksaan mata kepada siswa SMA N 15 Semarang, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LAKUKAN PEMERIKSAAN MATA : Mahasiswa Stikes Widya Husada, melakukan pemeriksaan mata kepada siswa SMA N 15 Semarang, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Era digitalisasi yang memudahkan banyak pihak mengakses informasi dan internet, termasuk akses bermain game di gadget atau smartphone, membawa dampak negatif. Pasalnya, hal itu menjadi salah satu penyebab banyaknya pelajar, terutama anak-anak terkena miopia atau rabun jauh.

Humas Stikes Widya Husada, Galuh Puspita, mengungkapkan bahwa saat ini jumlah anak yang terkena miopia cukup besar, mencapai 45 persen. Angka tersebut diketahui ketika pihak Stikes Widya Husada menggelar penyuluhan kesehatan di SMA N 15 Semarang, Rabu (7/3) kemarin.

“Selain penyuluhan kesehatan, juga dilakukan pemeriksaan mata dan pengenalan terhadap radiasi. Dari pemeriksaan mata ini, muncul temuan jika generasi milenial, mayoritas terkena miopia,” katanya kemarin.

Galuh menambahkan, dalam era digitalisasi yakni frekuensi seringnya menggunakan gadget ataupun komputer membuat generasi muda atau anak-anak menderita kelainan mata atau mengalami kelainan reflaksi mata. “Kesibukan orang tua pun menjadi salah satu penyebab. Kadang lebih memberikan anak-anak gadget, dibandingkan bermain dengan teman sebaya. Hal ini menjadi salah satu pemicu tingginya penderita miopia,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Prodi Teknik Rongten Stikes Widya Husada, Nanik Suryaningsih menambahkan bahwa selama ini masyarakat lebih banyak mengetahui tentang bahaya radiasi bagi tubuh manusia. “Radiasi yang terlalu besar memang berbahaya. Namun ada radiasi yang tidak berbahaya dan bisa dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. Yakni dalam teknik radiologi bisa digunakan untuk penegakan diagnosa sebuah penyakit yang ada di tubuh, sekaligus bisa digunakan untuk pengobatan kanker,” jelasnya. (den/ida)