200 Ribu Serangan Cyber ke Kementrian Pertahanan

1124
PRESENTASI: Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Kemhan, Marsma TNI Yusuf Jauhari, M.Eng memberikan paparan tentang pentingnya pengamanan data pribadi dalam menghadapi Asymmetric Warfare, Kamis (8/3), di Gedung Lily Rochly dalam Seminar Prodi Depmipatek Akmil Tentang Implementasi Teknologi Pada Alutsista Tni Guna menghadapi asymmetric Warfare Untuk Pertahanan Republik Indonesia. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)
PRESENTASI: Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Kemhan, Marsma TNI Yusuf Jauhari, M.Eng memberikan paparan tentang pentingnya pengamanan data pribadi dalam menghadapi Asymmetric Warfare, Kamis (8/3), di Gedung Lily Rochly dalam Seminar Prodi Depmipatek Akmil Tentang Implementasi Teknologi Pada Alutsista Tni Guna menghadapi asymmetric Warfare Untuk Pertahanan Republik Indonesia. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Jaringan Kementrian Pertahanan menerima serangan cyber atau cyberwarfare rata-rata 150-200 ribu per hari. Untuk itu, keamanan data sangat penting dalam penyimpanan agar tidak dapat diretas.

“Data yang disimpan sangat rentan, sebab dapat diakses tanpa izin, sehingga nanti penyerang memperoleh akses login dan memanfaatkan celah,” jelas Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Kemhan, Marsma TNI Yusuf Jauhari, M.Eng dalam Seminar Prodi Depmipatek Akmil tentang Implementasi Teknologi Pada Alutsista Tni Guna Menghadapi Asymmetric Warfare untuk Pertahanan Republik Indonesia, Kamis (8/3), di Gedung Lily Rochly Akmil Magelang.

Marsma TNI Yusuf Jauhari juga mengungkapkan bahwa data yang tersimpan dapat dirusak, sehingga penyerang dapat merusak data. Akibatnya, data tidak bisa dibuka kembali. Selain itu, lanjut Yusuf, penyerang juga dapat mengacaukan atau memalsukan data sehingga mengganggu analisa yang menggunakan data tersebut.

Cyberwarfare, sambung Yusuf, merupakan salah satu perang asimetris yang ada sejak dahulu, namun mulai meramaikan perang masa kini.

Pelaku serangan cyber mempunyai alasan, karena tujuan hobi, kriminal, maupun jaringan
atau sindikat. Perang asimetris terdiri atas adanya kelompok teroris, gerakan separatis, multinational company yang mampu menekan pemerintah suatu negara, dan organisasi kriminal internasional. Juga organisasi kriminal nasional dan cyberwarfare.

“Untuk itulah, generasi muda seperti mahasiswa dan para taruna taruni sangat penting untuk memahami dan terus belajar. Karena zaman sekarang kalau tidak belajar maka adalah kebodohan,” tandas Marsma TNI Yusuf Jauhari. Gubernur Akmil, Mayjen TNI Eko Margiyono dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wagub Akmil Brigjen TNI Wirana Prasetya Budi mengatakan bahwa ancaman asymmetric yang dihadapi Indonesia sangat berbeda karakternya dengan ancaman invasi konvensional.

“Contoh ancaman yang baru adalah meningkatnya jumlah pelaku yang menguasai bidang kimia, biologi, peperangan elektronik, juga meningkatnya jumlah kelompok ekstremis yang selalu memakai sosial media saat memprovokasi.” (cr3/isk)