3 SMP Jadi Percontohan Sekolah Kesehatan Reproduksi

715
KUNJUNGI SEKOLAH : Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengunjungi SMP N 28 Semarang yang dijadikan sekolah percontohan kesehatan reproduksi, Sabtu (10/3). (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi bagi remaja atau anak usia SMP saat ini bukan menjadi hal yang tabu. Tujuannya adalah para remaja ini tidak terjun ke pergaulan bebas dan menjadi korban kekerasan seksual. Tiga sekolah di Kota Semarang yakni SMP N 28, SMP N 22 dan SMP N 29, menjadi sekolah percontohan kesehatan reproduksi, sebagai langkah antisipasi menjadi korban kekerasan seksual.

Direktur Eksekutif PKBI Jateng, Elisabeth S.A Widyastuti mengatakan bahwa pendidikan seksual secara komperhensif sangat diperlukan kepada remaja sedini mungkin, dengan sarana sekolah yang merupakan tempat startegis untuk memberikan pendidikan seksual yang baik dan benar.

“Di sekolah ini, kami memberikan materi yang disampaikan oleh guru bimbingan konseling terkait pendidikan kesehatan reproduksi bagi para siswa kelas VII,” katanya di SMP N 28 Semarang, Sabtu (10/3).

Menurut data yang ada, jumlah remaja di Kota Semarang usia 10-14 tahun sebesar 27 persen atau sekitar 426.228 jiwa. Besarnya angka tersebut memiliki berbagai tantangan terhadap kesehatan reproduksi, misalnya HIV, sampai menjadi korban kekerasan seksual. Angka kekerasan seksual sendiri di Jawa Tengah cukup besar yakni usia 6 – 17 tahun menjadi korban.  “Sebagian remaja ini punya perilaku yang bersiko, sehingga perlu langkah antisipasi sedini mungkin,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu yang hadir di SMP N 28 Semarang, mengatakan saat ini banyak remaja yang terjerumus ke pergaulan bebas. Menjadi korban pelecehan seksual dan mulai mencoba narkoba.

Menurutnya, dengan pemberian materi tentang kesehatan repoduksi bisa menjelaskan gambaran bagi anak mana perilaku menyimpang atau melanggar norma agama dan mana yang tidak. “Melalui program ini, anak-anak akan tahu mana yang boleh dan mana yang tidak. Anak-anak ini tidak terjerumus dan bisa menjadi pencegahan,” ucapnya.

Terpisah, Kepala SMP 28 Semarang, Siwinarti menambahkan, memasuki usia remaja memang sangat perlu memberikan informasi kepada para remaja atau anak usia SMP. Apalagi dari kasus yang ada, banyak siswa SMP sudah mulai berani pacaran. (den/zal)