Cegah Sarcopenia dengan Protein dan Vitamin D

620
JAGA KESEHATAN : Seminar Awam Geriatri Cegah Penyakit dan Tetap Aktif Ketika Sudah Tak Lagi Muda di Atrium SMC RS Telogorejo, Semarang, Sabtu (10/3) lalu. (AFIATI TSALITSATI /JAWA POS RADAR SEMARANG)
JAGA KESEHATAN : Seminar Awam Geriatri Cegah Penyakit dan Tetap Aktif Ketika Sudah Tak Lagi Muda di Atrium SMC RS Telogorejo, Semarang, Sabtu (10/3) lalu. (AFIATI TSALITSATI /JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Seiring bertambahnya usia, fungsi tubuh akan mengalami penurunan termasuk otot. Sarcopenia adalah kondisi dimana massa dan kekuatan otot akan hilang. Kondisi ini, berkaitan dengan masalah kesehatan yang serius seperti kelemahan, kecacatan, morbiditas, dan mortalitas.

Umumnya, kondisi ini memengaruhi 4,6 persen pria dan 7,9 persen wanita yang rata-rata berusia 67 tahun. Penurunan massa otot dimulai pada umur 30 tahun dan biasanya berkurang 3-8 persen per 10 tahun. Salah satu upaya pencegahan adalah menjaga asupan dan konsumsi vitamin D.

“Selain karena faktor usia, sarcopenia bisa juga terjadi karena perubahan kadar hormon, kebutuhan protein berubah, neuron motorik mati, dan kekurangan vitamin D,” ungkap dr Arien himawan, MKes, Sp GK dalam Seminar Awam Geriatri Cegah Penyakit dan Tetap Aktif Ketika Sudah Tak Lagi Muda di Atrium SMC RS Telogorejo, Semarang, Sabtu (10/3) lalu.

Menurut Arien, untuk mencegah supaya otot tidak gampang turun, orang dengan usia lanjut perlu memperhatikan asupan yang dikonsumsinya. Lebih lanjut Arien menyarankan, asupan dengan protein dan vitamin D serta Omega 3 dan Omega 6 akan membantu pencegahan sarcopenia.

“Kemudian antioksidan juga. Namun, semua itu sama saja bohong kalau tidak diimbangi dengan adanya aktivitas fisik. Makannya baik, aktivitasnya kurang, ya tidak bisa,” imbuhnya.

Dampak dari adanya aktivitas fisik yang dilakukan, dapat menjadikan metabolisme dan insulin tubuh seseorang bekerja lebih baik. Hal itupun akan berdampak pada kerja liver yang secara otomatis juga akan lebih baik.

Arien menyarankan, aktivitas fisik yang dilakukan seperti berjemur saat matahari pagi dengan jalan kaki, jogging hingga bersepeda dengan tahapan waktu. Mulai dari 20-30 menit, kemudian 40 menit. Maksimalnya, lanjut dia, adalah 1 jam. “Prinsip ini berlaku untuk anak muda, hanya saja secara fisik tentu berbeda. Disesuaikan saja,” tuturnya.

Terakhir, Arien menyarankan sejumlah makanan juga harus dibatasi oleh orang di usia lanjut. Antara lain seperti makanan dengan karbohidrat yang olahan tepung, makanan yang manis, makanan dalam kemasan hingga makanan yang diawetkan. “Prinsipnya konsumsi vitamin D lebih baik jika dibantu dengan sinar matahari. Saya sarankan sekitar setengah 8 dibarengi dengan aktivitas,” tandasnya. (tsa/ida)