Menciptakan Emosi Positif Siswa

854
Oleh : Sudarmono S.Pd
Oleh : Sudarmono S.Pd

RADARSEMARANG.COM – KASUS murid menganiaya guru hingga tewas di Madura beberapa waktu lalu, sangat memprihatinkan. Sebaliknya, ada juga oknum guru yang tega menganiaya siswanya. Kasus-kasus kekerasan di lingkungan sekolah pun menarik media mainstream untuk mengulasnya hingga tuntas.

Berbagai pendapat tentang kasus yang terjadi di dunia pendidikan lantas bermunculan. Utamanya, yang berhubungan dengan perkembangan sosioemosional peserta didik. Munculnya sosioemosional yang negatif ini, kerap memicu terjadinya permasalahan dilingkungan sekolah. Seperti bullying, pelecehan seksual, dan bentuk kekerasan lainnya.

Dalam konteks kasus kekerasan di sekolah, sebenarnya tidak perlu terjadi jika pengembangan sosioemosional positif pada peserta didik muncul dengan baik. Sebab, suasana sekolah maupun kondisi pribadi siswa, bisa mempengaruhi gejolak jiwa siswa. Akibatnya, siswa melakukan penyimpangan perilaku. Padahal, tata tertib sekolah sudah jelas terpampang, baik jenis dan sanksinya.

Ironisnya, kadang sekolah hanya melihat pelanggaran siswa, tapi belum menekankan efektivitas penanganan yang telah dilakukan terhadap siswa yang melanggar.

Terkait hal tersebut, apakah sekolah sudah memfasilitasi pengembangan sosioemosional siswa yang positif dilingkungan sekolah secara maksimal? Apakah guru sudah memahami perkembangan sosioemosional siswa pada usianya? Apakah ada gangguan pada perkembangan sosioemosional pada pribadi siswa sudah terdeteksi dengan baik? Poin-poin itu perlu dipahami karena merupakan rekam jejak masing masing siswa yang setiap perkembangannya harus selalu dipantau.

Hal di atas penting untuk dikaji lebih dalam, agar pihak-pihak yang berkepentingan dapat menfasilitasi pengembangan sosioemosional diri pribadi siswa. Sehingga dapat memenuhi tugas-tugas perkembangannya, sesuai kebutuhan tugas perkembangan pribadi tiap siswa.

Apa itu sosioemosional? Merupakan kemampuan peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya; dan bagaimana peserta didik menyikapi hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan sosioemosional, antara lain, perubahan jasmani, perubahan pola Interaksi dengan orang tua, perubahan interaksi dengan teman sebaya, perubahan interaksi dengan sekolah.

Dalam konteks poin terakhir, guru di sekolah merupakan tokoh penting dalam kehidupan remaja. Selain tokoh intelektual, guru juga tokoh otoritas bagi peserta didiknya. Posisi semacam ini tentu sangat srategis jika digunakan untuk pengembangan emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif.

Kendati demikian, tidak jarang justru guru memberikan ancaman-ancaman tertentu kepada peserta didiknya. Yang terjadi, kondisi ini menambah permusuhan dari anak-anak setelah mereka menginjak masa remaja. Cara-cara seperti ini akan memberikan stimulus negatif bagi perkembangan emosi anak.

Padahal, emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar lebih baik. Sebaliknya, emosi yang negatif dapat memperlambat belajar. Atau bahkan menghentikannya sama sekali. Karena itu, pembelajaran yang berhasil, haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri siswa. Di antaranya, menciptakan lingkungan belajar atau lingkungan sosial yang menyenangkan dan dengan penciptaan kegembiraan belajar.

Jika terjadi hubungan atau interaksi yang baik antarpelajar dengan lingkungan sosial, lingkungan masyarakat, dan lingkungan keluarga—serta emosi siswa mampu disesuaikan dengan lingkungan sosial—tentu proses belajar siswa akan berjalan lancar.

Karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam proses pendidikan, emosi lingkungan sosial, sangat berperan dan perlu dilibatkan dalam proses pembelajaran. Sebab, emosi mempunyai suatu kekuatan yang dapat memicu kita dalam mencapai suatu prestasi belajar dan lingkungan sosial menjadi wadah dalam menjalankan proses belajar. Semoga. (*/isk)

Guru BK SMA 1 Magelang