Antara Matematika dan Karakter Bangsa

783
Oleh: Nurani MPd
Oleh: Nurani MPd

RADARSEMARANG.COM – KARAKTER bagi sebuah bangsa ibarat “ruh” bagi manusia. Jasad tidak berarti apa-apa jika tidak memiliki ruh. Sama halnya jika bangsa tidak memiliki karakter sebagai jati diri, pada hakikatnya bangsa itu tengah menunggu ajal kemusnahan.

Bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi problem moral. Maraknya korupsi, kolusi, nepotisme, tawuran, budaya tidak disiplin, penyebaran narkoba ke berbagai kalangan merupakan indikasi kemerosotan moral. Dalam rangka membangun kembali karakter bangsa, presiden Joko Widodo meluncurkan program “Revolusi Mental” yang diharapkan dapat mengembalikan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang santun, berbudi pekerti, beradab dan bergotong royong.

Membangun karakter bangsa memerlukan medium yaitu pendidikan yang memiliki daya pengungkit agar karakter itu bisa melekat pada dan menjadi kepribadian bangsa. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019 di antaranya memuat  penguatan pendidikan karakter (PPK), yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong, dan integritas pada anak-anak usia sekolah untuk semua jenjang pendidikan dalam rangka memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik. Salah satu caranya adalah dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran.

Penguatan karakter yang dimaksud dilakukan melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Dalam pembelajaran matematika, pemahaman konsep matematika sering diawali secara induktif maupun deduktif melalui pengamatan pola atau fenomena, pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Dari cara kerja matematika tersebut diharapkan akan terbentuk sikap kritis, kreatif, jujur, dan komunikatif pada diri peserta didik.

Pembelajaran matematika melatih peserta didik menjadi manusia yang teliti, cermat, tidak ceroboh dalam bertindak, bekerja keras, memiliki rasa ingin tahu, serta bersikap jujur. Pada saat mengerjakan soal matematika, peserta didik  harus memperhatikan secara benar berapa angkanya, berapa digit nol di belakang koma, bagaimana grafiknya, bagaimana titik potongnya dan sebagainya. Jika tidak cermat memasukkan angka, melihat grafik atau melakukan perhitungan, menyebabkan jawaban yang diperoleh menjadi salah.

Pembelajaran matematika juga mengajarkan peserta didik menjadi orang yang sabar dalam menghadapi masalah. Saat mengerjakan soal matematika yang penyelesaiannya panjang dan rumit, peserta didik  harus bersabar, tidak cepat putus asa dan tetap mandiri. Jika ada langkah yang salah, perlu diteliti dari awal, mungkin ada angka atau perhitungan yang salah. Namun, jika bisa mengerjakan soal tersebut, pasti akan merasa puas dan bangga.

Semakin tinggi mempelajari matematika, semakin banyak menemukan keteraturan di alam yang sangat mengagumkan, menambah keimanan serta semakin mendekatkan peserta didik kepada Sang Pencipta. Kecakapan matematika merupakan bagian dari kecakapan hidup yang harus dimiliki peserta didik terutama dalam pengembangan penalaran, komunikasi, dan pemecahan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam rangka mendukung gerakan PPK, guru matematika harus dapat menumbuhkembangkan kecakapan matematika peserta didik dalam proses pembelajaran matematika sehingga akan tercipta generasi berkarakter bangsa. (as3/aro)

 Guru SMK Negeri 2 Sragen