Efektif Tanamkan Budi Pekerti

573

RADARSEMARANG.COM – WIDYO Leksono ‘Babahe’, sosok seniman kawakan di Semarang yang masih konsisten menjadi seorang pendongeng dari sekolah ke sekolah. Wajar, jika pria berambut putih panjang itu dekat dengan dunia anak-anak.

Bahkan tidak hanya di Kota Semarang, ia juga kerap menularkan tradisi mendongeng di luar Kota Semarang, Karimunjawa hingga Kalimantan. Berbagai inovasi dengan melibatkan seniman muda, tak jarang melahirkan karya-karya kekinian.

Mulai dari mendongeng menggunakan wayang buatan, penulisan buku, hingga mentransfer dongeng anak kekinian menjadi sebuah film. Sebab, dongeng dianggap menjadi media tutur yang efektif untuk pendidikan budi pekerti, karakter, kepribadian maupun kecerdasan anak. Anak diajarkan nilai kejujuran, percaya diri, sopan santun, setia kawan, dan tanggungjawab.

“Bahwasanya bahasa tutur itu telah menjadi tradisi nenek moyang. Namun selama ini kian luntur. Saya merasa terpanggil untuk merawat tradisi itu,” kata Babahe kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (17/3).

Babahe kemudian menularkan metode mendongeng tersebut di sejumlah sekolah, terutama sekolah dasar. Penerapannya, metode mendongeng tersebut ada yang dimasukkan menjadi kurikulum intra maupun ektra.

“Biasanya disisipkan 5-10 menit di akhir pelajaran. Materi cerita bisa pengalaman saya sendiri saat naik gunung dan lain sebagainya. Tujuannya agar anak terinspirasi, khususnya mengajarkan budi pekerti, karakter dan lain-lain,” katanya.

Edukasi mengenai budi pekerti dan pendidikan karakter, menurut dia, paling pas melalui ‘mendongeng’ tersebut. Pengalaman di Kalimantan, ia menerapkan pendidikan anak dengan pola bermain. “Pada tahapan tertentu, anak diminta mengumpulkan cerita berdasarkan pengalamannya dengan cara mendongeng. Bahkan setelah tersusun dongeng-dongeng pengalaman anak, kemudian difilmkan,” katanya.

Sehingga dongeng tersebut mampu menanamkan kesan pada diri anak. Materinya tidak terbatas, bahkan guru matematika, fisika, bahasa Inggris, berdiskusi kemudian mencoba proses belajar mengajar dengan metode mendongeng. “Konsep bercerita bisa diterapkan untuk materi apa saja,” ujar Babahe yang sudah melakoni aktivitas mendongeng sejak 1990-an silam.

Hingga sekarang, Babahe masih sering menjadi ‘guru terbang’ dari sekolah ke sekolah. Terutama sebagai guru teater atau drama. Salah satunya di SDN Pekunden.

Perkembangan saat ini seiiring dengan pesatnya penggunaan teknologi, metode mendongeng ini mengalami stagnan. Bukan berarti hilang, tetapi minat untuk memelajari ilmu mendongeng terbilang minim. “Kalau Guru TK, PAUD, saat ini masih banyak menggunakan metode mendongeng. Nah, setelah masuk di SD, anak-anak jarang mendapatkan dongeng,” ungkap dia.

Menurut dia, mendongeng dibutuhkan kreativitas menyusun sebuah cerita. Tidak harus menggunakan cerita pakem, misalnya cerita nabi-nabi. Justru mendongeng akan lebih berkembang apabila bisa mengembangkan cerita berdasarkan pengalaman dan perkembangan zaman.

“Bulan puasa lalu, saya pernah punya pengalaman di sebuah pesantren. Saya menceritakan ada tiga binatang, yakni kambing, anjing dan kucing. Saya tawarkan pilih binatang mana? Mereka memilih kucing, alasannya bahwa kucing adalah binatang kesayangan Nabi Muhammad SAW. Saya tanya balik, kalau kucing itu mencuri ‘gereh’ bagaimana? Mereka bingung,” katanya.

Nah, sebetulnya nilai cerita hanya ingin mengajak anak-anak berpikir bahwa bukan persoalan memilih kambing, kucing ataupun anjing. Tetapi nilai yang hendak disampaikan adalah lebih ke siapa dia dan bagaimana berperilaku. “Itu nilai budi pekerti,” katanya.

Perkembangan teknologi semakin pesat, mendongeng juga perlu gerakan dan inovasi, Babahe berkolaborasi dengan seniman muda dengan membentuk Serikat Wayang Kontemporer Semarang. “Kami juga mendongeng menggunakan media wayang. Ada wayang tenda, wayang kardus, wayang rotan, dan lain-lain. Ada workshop mengenai bagaimana cara mendongeng, di situ kami ajak anak-anak membuat mainan wayang dari rotan. Wayang buatan tersebut sebetulnya hanya media, intinya mendongeng. Agar lebih mendekatkan dengan dunia anak,” katanya. (amu/ida)