Bisa Basket dan Futsal di Tepi Sungai

Lanskap Sungai Banjir Kanal Timur Masa Depan

960
LEBIH INDAH: Normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang yang mulai dilakukan. (kiri) Lanskap fasilitas umum yang akan dibangun di kawasan Barito dan Jalan Unta Raya. Ada zona sarana rekreasi dan zona sarana olahraga. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LEBIH INDAH: Normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang yang mulai dilakukan. (kiri) Lanskap fasilitas umum yang akan dibangun di kawasan Barito dan Jalan Unta Raya. Ada zona sarana rekreasi dan zona sarana olahraga. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) sudah dimulai. Sejumlah alat berat sudah mulai mengeruk sungai yang membelah bagian timur Kota Semarang tersebut. Rencananya, sisi kanan-kiri sungai tersebut bakal dilengkapi fasilitas umum, seperti sarana rekreasi, taman, dan sport center. Seperti apa?

MEGA proyek normalisasi sungai BKT tahap 1 dimulai dari jembatan Majapahit hingga muara pantai sepanjang kurang lebih 6,7 km.  Masyarakat tentunya penasaran seperti apa kemegahan lanskap sungai BKT setelah dinormalisasi? Apakah akan seperti sungai Banjir Kanal Barat (BKB)?

Proyek normalisasi sungai BKT ini memang menyedot perhatian. Selain ada ribuan warga, rumah, dan PKL terkena dampak dan harus menyingkir, proyek ini juga menelan anggaran hingga Rp 560 miliar. Maga proyek ini digadang-gadang bakal menjadi terobosan yang membawa perubahan mencolok di Kota Semarang. Sebab, kawasan bantaran sungai BKT yang selama ini kumuh, semrawut, dan langganan banjir, bakal disulap menjadi tempat yang cantik menawan.

“Kami maksimalkan dari muara hingga jembatan Majapahit, landskapnya nantinya untuk fasilitas umum,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Ruhban Ruzziatno, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (8/4).

Dikatakannya, lahan sepanjang bantaran sungai BKT tersebut bakat difungsikan dan diberikan fasilitas yang nyaman untuk masyarakat. Di antaranya, terbagi atas Zona Sarana Rekreasi dan Zona Sarana Olahraga.

“Sarana rekreasi di daerah zona ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sebab, selama ini tempat bermain anak-anak sangat kurang. Karenanya diperlukan sarana rekreasi,” ujarnya.

Di antaranya, permainan anak-anak, seperti arena sepeda, sepatu roda, perosotan, permainan tangga, dan lain-lain yang tidak membahayakan. Selain itu juga taman-taman yang indah dilengkapi tempat duduk sambil menikmati sungai. Sebagai tempat bersosialisasi antarwarga, bisnis, maupun untuk beristirahat mencari ketenangan.

“Sedangkan di zona sarana olahraga akan dibangun lapangan futsal, bola volley dan basket. Olah raga ini tidak membutuhkan jumlah pemain terlalu banyak. Sehingga pengumpulan pemain didapatkan dengan mudah,” katanya.

Sedangkan perencanaan konsep ini bisa dibagi menjadi beberapa zona. Pertama, Zona Jembatan Majapahit-Jembatan Kartini: daerah Gayamsari seluas 6,24 hektare terdiri atas zona olah raga (1 lokasi) dan zona rekreasi (1 lokasi); daerah Karangtempel (6,72 hektare) terdiri atas zona olah raga (1 lokasi) dan zona rekreasi (3 lokasi).

Zona Jembatan Kartini – Jembatan Citarum, meliputi daerah Sambirejo (3,68 hektare) terdiri atas zona rekreasi (1 lokasi); daerah Rejosari (5,90 hektare) terdiri atas zona rekreasi (1 lokasi ). Selanjutnya Zona Jembatan Citarum-Jembatan Kaligawe, yakni daerah Sawah Besar dan Pandansari (4,7 hektare) terdiri atas zona rekreasi (2 lokasi) dan zona olahraga (1 lokasi); daerah Mlatiharjo (6,43 hektare) terdiri atas zona rekreasi (1 lokasi).

“Nantinya bisa dilihat lanskap yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Space-nya agak luas, nanti ada banyak fasilitas, seperti lapangan basket, futsal lapangan terbuka, jogging track, taman anak-anak, dan masih banyak yang lain,” bebernya.

Dikatakannya, normalisasi BKT ini selain menyelesaikan persoalan banjir, juga sekaligus memberi fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat. “Progres pembangunan sekarang ini baru tahap awal. Kondisi sungai sendiri masih sangat sempit, luas sungai sekarang ini 15 meter. Nantinya sesuai dengan DED (detail engineering design), lebarnya menjadi 60-an meter,” katanya.

Sesuai target, proyek normalisasi selesai 2019. Tetapi dengan percepatan, diharapkan bisa selesai 2018 akhir. “Itu belum menyentuh daerah Jembatan Majapahit hingga Pucanggading lho. Kecuali kalau mulai sekarang Pemkot Semarang bisa menyelesaikan pembebasan lahan dari Jembatan Majapahit hingga Pucanggading. Untuk bagian atas memang belum diajukan anggarannya,” ujarnya.

Mengenai proses pembangunan, saat ini sedang berjalan. Kontraktor siap tancap gas untuk melakukan percepatan pembangunan. Ada tiga paket. Paket 1 dimulai dari muara pantai hingga jembatan kereta api, panjangnya 1,95 kilometer. Nilai kontraknya Rp 107.878.670.000. Paket 2, dari jembatan kereta api hingga Jembatan Citarum, panjangnya 2,05 kilometer. Nilai kontraknya Rp 169.335.319.000. Sedangkan Paket 3, dari Jembatan Citarum hingga Jembatan Majapahit, panjangnya 2,7 kilometer. Nilai kontraknya Rp 187.099.224.000.

Progres on schedule, saat ini masih memperlebar palung sungai. Elevasi bantaran sesuai direncanakan. Saat ini belum bisa menyentuh sepenuhnya tanggul, karena kaitannya dengan permukiman. Kami mengerjakan wilayah yang siap dikerjakan secara cepat,” katanya.

Berdasarkan kontrak, proyek ini dikerjakan multiyears mulai 27 Desember 2017 hingga 16 Desember 2019. “Ketiganya dikerjakan serentak atau berbarengan, karena kontraktornya sendiri-sendiri. Istilahnya nanti cepet-cepetan lah, karena kami nanti akan lakukan percepatan. Meskipun kontraknya hingga Desember 2019, tapi kami kejar supaya segera bisa dinikmati masyarakat dan terbebas dari banjir,” harapnya.

Konsep penataan lingkungan sungai BKT merupakan konsep secara kesinambungan menjadi Zona Amenity (kenyamanan). Diharapkan  masyarakat dapat turut serta  dalam pemeliharaan terhadap kebersihan maupun perawatan lingkungan yang akan ditata. “Manfaat amenity, selain sebagai tempat berkumpul, dapat dijadikan tempat untuk berdiskusi maupun membicarakan masalah bisnis, bermain anak-anak, olahraga, maupun bersantai di pagi hari, malam hari, dan hari libur. Sungai juga dapat dijadikan tempat untuk rekreasi air. Misalnya, dipergunakan untuk lomba perahu,” katanya.

Sekretaris Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, M Farchan, mengatakan, sesuai rencana semula, proyek normalisasi Banjir Kanal Timur memiliki panjang 14,8 kilometer. Ada dua tahap pengerjaan, yakni, tahap 1 Jembatan Majapahit menuju hilir di Tambaklorok kurang lebih sepanjang 6,7 kilometer. Sedangkan tahap 2, mulai dari Jembatan Majapahit hingga Pucanggading kurang lebih sepajang 7,7 kilometer. “Lebar sungai Banjir Kanal Timur menjadi 65 meter untuk bagian permukaan. Sedangkan bagian bawah memiliki lebar 50 meter. Bentuk seperti huruf U,” terangnya.

Banjir Kanal Timur saat ini mengalami pendangkalan cukup parah akibat sedimentasi. Selain terjadi penurunan kapasitas saluran akibat sedimentasi, sampah dan bangunan liar juga turut memperparah pendangkalan. Diperkirakan, kata dia, hasil pengerukan sedimentasi Banjir Kanal Timur akan menghasilkan limbah buangan dengan volume 900 meter hingga 1 juta meter/kubik. “Bekas kerukan sedimentasi ini dimanfaatkan untuk menguruk lahan di proyek Kampung Bahari Tambak Lorok dan Sawah Besar,” imbuhnya.

Sedangakan total warga yang terkena dampak pembangunan proyek BKT sebanyak 4.097 tanah dan bangunan di 21 kelurahan. Rinciannya, tahap 1 sebanyak 2.758 warga berada di 12 kelurahan. Sedangkan di tahap 2 sebanyak 1.339 warga.

Ahmad Zaenuri, warga Tambak Dalam, Sawah Besar, mengaku mendukung adanya proyek normalisasi BKT ini. Sebab, selama ini saat hujan deras, permukimannya selalu tergenang banjir. Bahkan tak jarang banjir sampai masuk rumah. “Kalau normalisasi sudah jadi, yang penting ndak banjir dan rob lagi,”harapnya.

Hal senada diungkapkan Utomo Hariono, warga Semarang Timur. Ia juga berharap normalisasi bisa mencegah banjir di wilayahnya. Ia mengeluhkan selama ini ketika banjir dan rob, tokonya terpaksa tutup, karena jalan di depannya terendam air.

“Ketika banjir datang, toko tutup, karena warga jadi malas lewat genangan air,” keluh pemilik toko kelontong ini. (amu/jks/aro)