Pertama di Semarang, Dulu Langganan Belanda dan Jepang

Kampung-Kampung Spesialis Bengkel Otomotif

1881
KAWASAN BENGKEL LIGU : Sepanjang Jalan Ligu Tengah Kelurahan Sarirejo, Semarang Timur, Kota Semarang berderet puluhan bengkel perbaikan body dan cat mobil yang sudah turun temurun beberapa generasi. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KAWASAN BENGKEL LIGU : Sepanjang Jalan Ligu Tengah Kelurahan Sarirejo, Semarang Timur, Kota Semarang berderet puluhan bengkel perbaikan body dan cat mobil yang sudah turun temurun beberapa generasi. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TURUN TEMURUN : Beni, generasi keempat yang kini meneruskan usaha bengkel yang didirikan kakek buyutnya, Kamin sekitar tahun 1940-an silam. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TURUN TEMURUN : Beni, generasi keempat yang kini meneruskan usaha bengkel yang didirikan kakek buyutnya, Kamin sekitar tahun 1940-an silam. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kota Atlas Semarang ini sangat kaya potensi sejak masa lampau. Terbukti, memiliki kampung-kampung spesialis bengkel otomotif yang turun temurun beberapa generasi hingga sekarang.

RADARSEMARANG.COM – BENGKEL spesialis yang cukup terkenal di Semarang adalah bengkel Body Repair & Painting di sepanjang Jalan Ligu Tengah Kelurahan Sarirejo, Semarang Timur, Kota Semarang. Puluhan bengkel perbaikan body dan cat mobil berjajar di jalan ini.

Dari sekian banyak bengkel, terdapat satu bengkel yang merupakan cikal bakal keberadaan bengkel-bengkel di Ligu. Tidak lebih mencolok dibandingkan bengkel lainnya. Namun, hampir semua orang di sekitar mengakui bengkel ini merupakan bengkel yang pertama di Ligu. Bahkan bisa jadi merupakan yang pertama di Semarang.

Bengkel ini sudah ada sejak tahun 1940-an silam. Kamin, adalah pendiri pertama bengkel ini. Kini oleh penerusnya, nama Kamin diabadikan menjadi nama bengkel. Tulisan ”Bengkel Kamin” pada plang berwarna hijau menandai keberadaan bengkel ini.

Muhammad Maksum, generasi ketiga bengkel ini menjelaskan bahwa sekitar tahun 1940-an, bengkel Kamin hanya bergerak di jasa perbaikan sepeda. Saat itu, langganannya adalah orang-orang Belanda dan Jepang. ”Sepeda penyok, pasti larinya ke bengkel Pak Kamin ini,” jelas Maksum saat ditemui di bengkelnya, Jalan Ligu Tengah 528.

Satu hari, oleh Belanda, Kamin diminta memperbaiki mobil. Karena bukan spesialisasinya, Kamin menolak. Sayangnya, Kamin tidak mampu menghindar dari bujukan pelanggannya. Akhirnya, mau tidak mau Kamin mengerjakan dengan hasil yang tak disangka memuaskan. Dari situ, ia melanjutkan jasa bengkelnya untuk menangani mobil.

”Pertama Pak Kamin, kemudian dilanjutkan Pak Ahmad Salim, ayah saya. Tahun 55 saya meneruskan. Sekarang dilanjutkan anak-anak saya,” ujar Maksum menjelaskan urut-urutan pemegang tongkat estafet bengkel ini.

Faktor umur dan kesehatan membuat Maksum tidak dapat melanjutkan usaha bengkelnya. Kendali bengkel saat ini dipegang anak-anak nya, Robi Kristian dan Beni Kristiadi.

Dari Beni, koran ini mendapat cerita bahwa hampir semua bengkel yang ada di Ligu dulunya adalah karyawan Bengkel Kamin. Setelah memiliki kemampuan, mereka membuka usaha sendiri, mencoba untuk mandiri. Bengkel Kamin tidak khawatir mengenai persaingan, karena tiap bengkel memiliki langganannya sendiri-sendiri. ”Pokoknya kami kerja, kalau hasilnya bagus pasti akan dicari orang,” tegasnya.

Tidak ada sekolah khusus bagi para penerus usaha bengkel ini. Kemampuan memperbaiki body dan cat mobil didapat karena memang hampir setiap hari berhadapan dengan aktivitas perbaikan tampilan mobil. ”Lha setiap hari mambu cat, sui-sui iso dewe,” jelas Beni yang juga sempat kuliah di jurusan ekonomi, namun memilih melanjutkan usaha bengkel kakek buyutnya ini.

Kemampuan yang diperoleh secara turun-temurun ini selalu dipertahankan Robi dan Beni hingga saat ini. Tak hayal, Bengkel Kamin memiliki pelanggan fanatik dari berbagai kota. Mulai dari kota tetangga hingga kota luar provinsi. Mereka rela jauh-jauh datang ke Semarang Timur hanya untuk memperbaiki tampilan kendaraan mereka. ”Padahal kalau dipikir, di sana juga banyak bengkel. Yang kesini justru dari Jember, Blora, Purwodadi. Jawa Timuran itu banyak juga,” jelas pria bertopi ini.

Dari sini, Bengkel Kamin berkomitmen memegang prinsip untuk menjaga kualitas.Terlebih menjaga nama. Bukan tanpa alasan, saat ini banyak bengkel yang mengaku bengkel Ligu, namun dengan pengerjaan asal-asalan. Sudah pasti bengkel Ligu asli yang terkena dampaknya.

”Mereka asal dapat uang tanpa memperhatikan kualitas. Akhirnya, nama Ligu jadi jelek karena dicatut sama yang begini ini,” keluh pria yang merupakan ketua paguyuban Bengkel Ligu dengan anggota sekitar 25 orang ini.

Di bawah kendali Robi dan Beni, Bengkel Kamin kini dijalankan bersama 8 karyawan yang kesemuanya masih saudara. Beni berharap, demi kelangsungan bengkel yang sudah bertahun-tahun operasi ini, harga bahan baku tetap stabil. Selain itu, yang sangat ia harapkan adalah, jangan sampai bengkel-bengkel di kawasan Ligu terkena gusuran.

”Sempat dulu karena ditengarai menyebabkan kemacetan, kami diminta menandatangani komitmen untuk menyelesaikan problem ini. Kalau tidak, ya…digusur,” cerita pria yang mengaku senang jika para pelanggannya puas ini.

Lebih jauh, kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, Beni berharap agar kawasan Ligu dijadikan sebagai kampung tematik. Seperti kampung tematik lainnya, ia dan pemilik bengkel lainnya siap membantu mengharumkan nama Kota Semarang lewat hasil karyanya. ”Jadi kalau boleh usul, nanti jadi Kawasan Bengkel Ligu,” pungkasnya. (sga/ida)