Memupuk Cinta Lingkungan Melalui Outdoor Learning

391
Oleh: Iin Marlina SSi
Oleh: Iin Marlina SSi

RADARSEMARANG.COMKERUSAKAN lingkungan akibat ulah manusia selalu menjadi topik menarik untuk diulas. Pembalakan liar, tumpukan sampah, pembuangan limbah tanpa diolah terlebih dahulu menjadi alasan kuat terjadinya ketidakseimbangan ekosistem. Timbulnya bencana alam yang disinyalir akibat ulah manusia tersebut tentu sangat merugikan masyarakat. Belakangan ini, muncul satu lagi kegiatan manusia yang memicu kerusakan lingkungan, yaitu selfie.

Aktivitas selfie semakin menjamur beberapa tahun terakhir ini seiring dengan berkembangnya teknologi. Selfie alias swafoto digandrungi oleh semua kalangan pada setiap jenjang usia. Mereka berlomba-lomba mengabadikan potret diri dengan berbagai gaya dan latar belakang sebagai salah satu wujud eksistensinya. Kebiasaan ber-selfie ini tak jarang menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Pembaca tentu masih ingat peristiwa rusaknya Kebun Bunga Amaryllis di wilayah Gunung Kidul, Jogjakarta dan Kebun Raya Baturraden di kawasan Purwokerto, Banyumas. Hamparan bunga yang dirawat sehingga mekar dengan indah rusak terinjak-injak pengunjung demi memperoleh foto selfie terbaik.

Kerusakan lingkungan tempat wisata akibat ulah pengunjung tak hanya disebabkan oleh aktivitas selfie. Tercatat di pemberitaan pada laman-laman travelling terkemuka, tempat-tempat wisata mengalami kerusakan akibat oknum pengunjung tak mengindahkan peraturan setempat seperti tidak mencoret-coret, merusak hingga membuang sampah sembarangan. Tingkah laku yang merusak lingkungan tentunya perlu diubah menjadi sikap dan tingkah laku yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Disinilah peran guru dalam membentuk karakter siswa yang berwawasan dan peduli lingkungan.

Karakter peduli lingkungan merupakan sikap yang dimiliki seseorang dalam mengelola lingkungan secara benar dan bermanfaat tanpa merusak keadaannya sehingga bisa dinikmati secara berkesinambungan. Penerapan pendidikan karakter peduli lingkungan akan mendorong dan menumbuhkan kebiasaan perilaku siswa dalam pengelolaan lingkungan yang benar, menghindari perbuatan merusak lingkungan dan menanamkan jiwa peduli dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. Pembentukan karakter peduli lingkungan dapat diawali dengan mengenalkan lingkungan sekitar kepada siswa sehingga tumbuh rasa cinta siswa terhadap lingkungannya.

Upaya memupuk sikap peduli dan cinta lingkungan pada siswa dapat dilakukan dengan melaksanakan pembelajaran outdoor learning. Konsep pembelajaran outdoor learning adalah pembelajaran dengan melakukan petualangan di lingkungan luar sekolah dengan alam terbuka sebagai sarana. Pembelajaran outdoor learning menjadikan kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan. Siswa dihadapkan langsung dengan keadaan yang sebenarnya kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan aktif. Siswa akan berinteraksi langsung dengan alam, sehingga siswa dapat mengenali komponen-komponen yang berperan dalam keseimbangan lingkungan.

Kontak langsung dengan lingkungan akan menggugah rasa ingin tahu siswa terhadap siklus kehidupan yang terjadi di dalamnya. Siswa akan memahami dan menghayati aspek-spek kehidupan yang ada di lingkungan, sehingga akan terbentuk pribadi yang cinta lingkungan. Kecintaan siswa terhadap lingkungan akan mendorong siswa untuk berperilaku baik yang menjaga kelestarian lingkungan. Siswa sebagai pelaku selfie agar tetap eksis dan kekinian, akan mampu menjaga lingkungan ketika sedang melakukan selfie. Perilaku siswa yang demikian diharapkan mampu menjadi contoh bagi orang dewasa dan masyarakat disekitarnya untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan. Bagaimanapun hidup manusia bergantung pada lingkungan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, lingkungan harus dijaga kelestariannya dengan tidak melakukan tindakan yang merusak lingkungan. Dengan kata lain boleh saja untuk tetap eksis asal tidak overdosis, sehingga merugikan lingkungan sekitarnya. (tj3/aro)

Guru SMK Negeri 2 Sukoharjo